Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Quraisy (6)

Ainul Hafidz • Sabtu, 4 April 2026 | 05:42 WIB

 


 

Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)
Rubrik opini KH Mustain Syafii. (Radar Jombang)

 

DI tengah-tengah imam Hasan al-Bashry berprasangka buruk kepada dua sejoli tersebut, tiba-tiba ada perahu melaju di sungai.

Perahu oleng tepat di depan mereka. Lalu perahu itu tenggelam karena dihantam angin ribut yang datang sporadis.

Menyaksikan tragedi mengerikan itu, semua terkejut dan terperanga.

Baca Juga: 11 Desa di Jombang Mulai Proses KDAW, Dua Desa Siap Jaring Bacalon Kades

Pemuda itu segera melompat ke air dan berenang menolong satu persatu hingga enam penumpang berhasil diselamatkan.

Tinggal satu dan dia tak mampu karena kelelahan berat. Lalu meminta tolong kepada Syekh Hasan al-Bashri.

Hasan hanya merunduk dan memohon maaf karena tak bisa berenang. Matilah si penumpang tersisa itu, tenggelam dan hanyut.

Lalu kepada pemuda tersebut, syekh bertanya: Siapa Anda dan siapa wanita yang nampak akrab banget bersama anda itu..?

Pemuda menjawab: Saya Abdullah dan itu ibu saya. Saya merawatnya dan melayani. Ke mana saja ibu mau, aku yang mengantar dan mendampingi.

Lha kok ada botol minuman (keras) ..? Oh itu hanya botolnya, tapi isinya air mineral biasa. Saya butuh botol untuk wadah air, tapi tak menemukan.

Lalu botol itu saya cuci dan saya manfaatkan dari pada mubazir. Dari pada ibu kehausan di tengah jalan.

Mendengar penjelasan itu, sang imam meminta maaf karena telah berburuk sangka.

Falya’budu Rabb hadza al-bait, al-Ladzi ath’amahum min ju’.

Pada potongan ayat ini ter-blow-up, bahwa kriteria Tuhan, salah satunya adalah memberi makan hamba-Nya saat lapar. Pelajarannya, antara lain:

Pertama, hanya Tuhan-lah Sang Pemberi rezeki dan itu mutlak.

Baca Juga: Kanopi Pasar Ploso Ambruk, Disdagrin Jombang Berencana Turunkan Tim Audit Independen

Sementara ikhtiar manusia hanyalah usaha belaka, sedangkan penentu rezeki tetap di tangan Tuhan.

Tesis ini adalah tesis syari’ah dan harus dipedomani oleh setiap orang beriman agar tak menafikan salah satunya.

Andai, sekali lagi ’’andai’’ diuji coba dengan syarat hati kudu nothok puoll, hanya mengandalkan Allah Ta’ala saja, lain tidak, tanpa ikhtiar apa-apa sama sekali, maka bisakah seseorang model begitu itu tetap mendapatkan rezeki ..? Bisa dan pasti.

Ini kisahnya.

Dulu ada seorang alim yang sedang suluk, menempuh jalan menuju Tuhan dan ingin membuktikan janji Tuhan yang memberi rezeki: Apa benar dan bisa dibuktikan.

Dia ingin menguji Tuhan, konsiskah Tuhan dengan firman-Nya Sendiri..?

Sebut saja dia Abdullah al-Zahidy. Dengan tujuan menguji Tuhan, dia pergi kamping ke gunung terpencil nan jauh, tanpa membawa bekal apa-apa.

Sengaja begitu dan ikhlas mati kelaparan jika memang ditakdir mati. Toh itu berarti kehendak Tuhan sendiri.

Jika Dia menghendaki hidup, tentu Tuhan akan memberi makanan dengan cara-Nya Sendiri dan Dia mha Kuasa. walhasil.. pasrah total. 

Saat kelaparan berat dan terbaring lemas, tiba-tiba ada sejumlah pemuda pendaki gunung yang sedang kamping ke situ.

Mereka membawa perlengkapan lengkap, makanan dan minuman. Mengetahui ada orang tua di situ, mereka menawari makanan.

Lho piye..? . Ya, tapi jangan dicontoh kalau iman dan tawakkal Anda tidak mapan. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis: KH Mustain Syafii

 

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #Quraisy #Jombang #Tafsir Aktual