JombangBanget.id - Ancaman kerugian membayangi petani di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang.
Padi yang sudah siap panen terendam banjir luapan Afvoer Watudakon selama hampir dua pekan. Akibatnya, panen tak bisa dilakukan dan kualitas gabah dipastikan merosot tajam.
Yasin Firmansyah, salah satu petani, mengungkapkan tanaman padinya sebenarnya tinggal menunggu panen. Namun, banjir datang saat bulir sudah matang.
”Sudah siap panen, sudah ada bulir padinya. Tinggal menunggu giliran combine saja, tapi sekarang masih kebanjiran,” katanya.
Genangan air yang masih tinggi membuat proses panen lumpuh total. Mesin combine tidak bisa masuk ke lahan, sementara panen manual pun tidak memungkinkan.
”Mesin combine tidak bisa masuk, dipanen manual juga tidak ada yang mau. Jadi terpaksa dibiarkan,” imbuhnya.
Kondisi itu berdampak langsung pada kualitas hasil panen. Padi yang terlalu lama terendam mulai rusak, bahkan sebagian sudah tumbuh kembali.
”Kualitasnya jelas turun. Ada yang sudah tumbuh lagi seperti benih, jadi tidak bisa jadi beras,” jelasnya.
Lahan seluas sekitar 4.200 meter persegi milik keluarganya terdampak seluruhnya. Kerugian pun tak terhindarkan. ”Kalau seperti ini ya sudah pasti rugi,” ujarnya.
Para petani berharap ada langkah cepat dari pihak terkait, terutama pembersihan aliran di pintu Sipon Watudakon sisi utara di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Tumpukan sampah dan tanaman air diduga kuat menjadi penyebab tersumbatnya aliran.
Kepala Dusun Beluk, Sistiyo Budianto, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, debit air masih tinggi dan kerap meluap ke area persawahan.
”Sudah kami sampaikan ke BBWS Brantas, tapi belum ada tindakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain curah hujan tinggi, penyumbatan di saluran turut memperparah banjir.
Tumpukan tanaman air seperti kangkung dan eceng gondok menumpuk di bak kontrol Sipon Watudakon.
Upaya pembersihan yang hanya mencacah tanpa mengangkat sisa tanaman justru memperburuk keadaan. Material terbawa arus dan menumpuk di titik sempit.
Selain itu, kapasitas saluran dinilai tidak memadai akibat pendangkalan di bagian selatan. ”Dasar sungai kurang dalam, sehingga pembuangan air tidak maksimal. Air yang keluar hanya di permukaan,” tuturnya.
Total sekitar 15 hektare lahan pertanian di Dusun Beluk terdampak banjir. Sebagian besar tanaman yang sebelumnya siap panen kini terancam gagal panen.
”Padahal, sebagian besar padi di sini sudah siap panen dan sekarang malah bisa-bisa gagal panen,” katanya. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz