JombangBanget.id - Ustad Moch Wildan dari Pondok Pesantren At-Taufiq, Sambongdukuh, Jombang menjelaskan dampak puasa Ramadan.
’’Orang yang puasa Ramadannya berhasil akan menjadi pribadi yang bertakwa dan insan kamil,’’ tuturnya, saat ngaji di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (31/3).
Allah Ta’ala berfirman di Surat Albaqarah 185.
Baca Juga: Terjawab Sudah, Ini Status Legalitas MR D.I.Y Indonesia di Ploso Jombang
Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.
Ayat ini menegaskan, ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.
Tetapi membentuk manusia yang bertakwa, insan kamil, gemar mengagungkan Allah Ta’ala, dan menjadi pribadi yang bersyukur.
Pertama, puasa mencetak hamba yang bertakwa.
Baca Juga: Fantastis! Jatim Kembali Jadi Jawara KIP Kuliah 2026, Ribuan Siswa Auto Kuliah
Puasa madrasah rohani yang melatih manusia mengendalikan hawa nafsu. Tujuan utamanya sebagaimana disebut di QS Albaqarah 183, agar kalian bertakwa.
Sahabat Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah menjelaskan makna takwa dengan sangat indah: Takwa itu seperti berjalan di jalan yang penuh duri, engkau akan berhati-hati dalam setiap langkah.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Takwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan Alquran, merasa cukup dengan yang sedikit, dan bersiap untuk hari akhir (kematian).
Kedua, keseimbangan spiritual dan sosial. Puasa tidak berdiri sendiri.
Ia berkaitan erat dengan salat, yang menjadi tiang agama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman di QS Albaqarah 45. Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.
Puasa melatih kesabaran (spiritual), sedangkan salat menguatkan hubungan dengan Allah dan membentuk kepedulian sosial.
Baca Juga: Di Balik Sukses Jatim di SNBP 2026, Ini Kunci Utamanya
Orang yang benar salatnya akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.
Seorang wali besar, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pernah menasihati muridnya:
’’Jika puasamu tidak membuatmu lebih peduli kepada orang lain, maka puasamu hanya lapar biasa.’’
Dikisahkan beliau selalu memberi makan fakir miskin saat berbuka, bahkan sering mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri.
Inilah bentuk keseimbangan antara ibadah spiritual dan sosial.
Ketiga, menuju insan kamil (manusia sempurna). Puasa yang dijalankan dengan penuh kesadaran akan membentuk insan kamil.
Manusia yang seimbang antara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
Nabi bersabda; Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat. Makna sehat di sini tidak hanya fisik, tetapi juga hati dan jiwa.
Baca Juga: Rejeki Wondr BNI Tahap II: Nasabah BNI KC Jombang Raih Hadiah Motor, Smartphone dan Laptop HP
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: Puasa umum (menahan makan dan minum).
Puasa khusus (menjaga anggota tubuh dari dosa). Puasa khususul khusus (hati hanya tertuju kepada Allah Ta’ala).
Keempat, puasa melahirkan rasa syukur.
Di QS Albaqarah 185 disebutkan, tujuan akhir puasa adalah agar manusia bersyukur.
Dengan merasakan lapar, manusia memahami nikmat makanan, kesehatan, dan kehidupan yang sering dilupakan.
Allah Ta’ala berfirman di QS Ibrahim 7. Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.
Seorang ulama besar, Sufyan ats-Tsauri, pernah menangis saat berbuka puasa.
Ketika ditanya, beliau menjawab: ’’Aku khawatir puasaku tidak diterima, padahal aku sangat membutuhkan rahmat Allah.’’
Rasa takut dan harap inilah yang melahirkan syukur sejati—menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz