JombangBanget.id - Imam Masjid Dr H Moeldoko, Jombang, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan tanda keberhasilan puasa Ramadan.
’’Orang yang puasa Ramadannya berhasil, maka setelah Ramadan akan semakin bertakwa,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (27/3).
Sebagaimana disebutkan di Surat Albaqarah 183 bahwa tujuan puasa adalah bertakwa.
Baca Juga: Rakor AFKAB Jombang Berbuah Keputusan Penting, Ini Dampaknya untuk Tim Futsal Lokal
Tanda takwa meningkat setidaknya ada empat.
Pertama, semakin taat menjalankan perintah agama. Selama Ramadan kita telah menahan lapar dan dahaga.
Kita belajar menahan amarah, mengendalikan ego, dan meredam hawa nafsu. Semua itu harus terus kita lakukan setelah Ramadan berlalu.
Diriwayatkan dari seorang tabi’in, ada pemuda yang sangat rajin berpuasa di bulan Ramadan.
Baca Juga: Tak Dikecualikan, Siswa Inklusif di Jombang Tetap Masuk Peserta TKA 2026
Namun setelah Ramadan, ia kembali pada kebiasaan buruknya.
Maka seorang ulama menasihatinya: ’’Jika Ramadan tidak mampu mengubahmu, maka ketahuilah ada yang salah dengan puasamu.’’
Sejak itu, pemuda tersebut memperbaiki niat dan ibadahnya, hingga berubah menjadi pribadi yang istiqamah.
Kedua, semakin peduli dan lembut hati.
Tanda orang yang berhasil dalam Ramadan adalah ketika memasuki Syawal, ia mampu menahan diri dari maksiat.
Memiliki empati sosial. Peduli kepada sesama. Lebih lembut, pemaaf, dan ikhlas.
Sebagaimana tanda orang bertakwa yang disebutkan di Surat Ali Imran 134.
Baca Juga: Populasi Sapi di Jombang Turun Tajam, Disnak Ungkap Penyebabnya
Yang bertakwa yaitu orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarah dan memaafkan manusia.
Seorang wali pernah melihat orang fakir yang tetap bersedekah meski ia sendiri kekurangan.
Ketika ditanya, ia menjawab: ’’Aku belajar dari Ramadan bahwa memberi tidak menunggu kaya.’’
Kedermawanannya justru menjadi sebab Allah Ta’ala melapangkan rezekinya.
Ketiga, semakin hati-hati dengan amanah.
Harta dan jabatan amanah bukan kebanggaan. Setiap manusia memiliki jalan kebaikan masing-masing.
Kebaikan tidak selalu diukur dari harta, jabatan, atau status sosial.
Harta dan jabatan adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Baca Juga: Sempat Bikin Resah, Sisa THR PPPK Paruh Waktu di Jombang Akhirnya Dibayarkan
Umar bin Abdul Aziz berkata: Dunia ini hanyalah titipan, maka gunakanlah untuk akhiratmu.
Seorang gubernur di masa tabi’in dikenal sangat sederhana.
Ketika ditanya mengapa ia tidak memanfaatkan jabatannya untuk kemewahan, ia menjawab: ’’Aku takut jabatan ini menjadi saksi yang memberatkanku di hadapan Allah.’’
Ia justru menggunakan jabatannya untuk membantu rakyat kecil.
Keempat, semakin sabar.
Kemuliaan sejati bukan pada harta, tetapi pada kesabaran dan keridaan terhadap takdir Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Albaqarah 153. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata; Tiada iman bagi orang yang tidak bersabar.
Ada seorang buruh miskin yang tetap tersenyum dan bersyukur setiap hari.
Ketika ditanya rahasianya, ia berkata: ’’Aku tidak punya banyak harta, tapi aku punya hati yang cukup.’’
Kesabarannya membuat hidupnya penuh ketenangan, meski secara materi terbatas. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz