JombangBanget.id - Perayaan Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Jombang tetap berlangsung khidmat.
Umat Hindu setempat mengaku tidak merasakan gangguan berarti meski dua hari besar keagamaan tersebut hanya terpaut waktu singkat.
Pemangku umat Hindu di Pura Amerta Bhuana Dusun Ngepeh, Pranutik, mengatakan, sebelum pelaksanaan hari raya, sudah dilakukan pertemuan lintas agama untuk membahas teknis pelaksanaan agar tetap berjalan harmonis.
Dalam pertemuan itu, disepakati kegiatan takbiran tetap diperbolehkan.
Namun tanpa menggunakan pengeras suara saat berdekatan dengan umat Hindu yang menjalankan Nyepi.
Namun, kesepakatan itu tidak sepenuhnya diterapkan karena Lebaran jatuh setelah Nyepi.
’’Kesepakatannya takbiran boleh, tapi tanpa sound. Tapi kemarin tidak sampai begitu, karena Lebarannya Sabtu, jadi malam takbirnya Jumat malam. Tidak bersamaan Nyepi,” jelasnya.
Ia menegaskan, secara umum pelaksanaan Nyepi tahun ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
’’Meski pada Kamis malam umat Muslim masih menjalankan salat tarawih, hal itu tidak mengganggu umat Hindu yang sedang menjalani rangkaian Nyepi. Tidak terganggu karena sudah terbiasa,’’ ungkapnya.
Untuk upacara Melasti, umat Hindu dari Ngepeh bergabung dengan umat lain di Jombang dan melaksanakannya secara terpusat di Kecamatan Wonosalam, Sabtu (14/3).
Tawur Agung dilaksanakan, Rabu (18/3), juga secara terpusat di Wonosalam, termasuk prosesi arak-arakan ogoh-ogoh.
Baca Juga: Begini Cara Umat Hindu di Ngepeh Rejoagung Jombang Jaga Kerukunan Antarumat Beragama
”Semua terpusat di Wonosalam, istilahnya satu kabupaten,” jelasnya.
Usai pembakaran ogoh-ogoh, umat Hindu Ngepeh kembali ke dusun untuk melaksanakan persembahyangan di Pura Amerta Bhuana.
Setelah itu, mereka melakukan ritual keliling kampung tanpa ogoh-ogoh sebelum kembali ke pura.
”Kami tidak membuat ogoh-ogoh sendiri karena sudah terpusat di Wonosalam dan juga menyesuaikan aktivitas warga,” katanya.
Setelah rangkaian tersebut, warga melanjutkan dengan pembersihan rumah masing-masing sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
Untuk pelaksanaan Catur Brata Penyepian, anak-anak mulai menjalankan pada pukul 00.00, sementara orang dewasa dimulai sejak Kamis (19/3) pukul 06.00 hingga Jumat (20/3) pukul 06.00.
Pranutik mengaku sempat mengira malam takbiran berlangsung Kamis (19/3) malam karena suasana yang sepi.
”Kami sempat heran kok tidak ada suara takbiran. Ternyata Lebaran masih Sabtu (21/3),” ujarnya.
Setelah Nyepi selesai, pihaknya bahkan mempersilakan umat Muslim untuk melaksanakan takbiran dengan pengeras suara.
”Jumat (20/3) malam kami sampaikan, Nyepinya sudah selesai, silakan takbiran pakai toa,” tuturnya.
Ia berharap kerukunan antarumat beragama di Dusun Ngepeh tetap terjaga seperti selama ini.
”Harapan kami semua tetap berjalan aman, tidak ada permasalahan, sesuai warisan leluhur Bhineka Tunggal Ika,” ungkapnya.
Umat Hindu di Dusun Ngepeh berjumlah sekitar 20 kepala keluarga (KK) atau 60 jiwa.
Mereka hidup berdampingan dengan umat beragama lain dalam suasana yang harmonis. (fid/jif)
Editor : Ainul Hafidz