Tradisi Melasti dan Pawai Ogoh-Ogoh Sambut Hari Raya Nyepi di Jombang
Anggi Fridianto• Kamis, 19 Maret 2026 | 11:00 WIB
SAKRAL: Ratusan umat Hindu menggelar Upacara Melasti di sumber air Dusun Tegalrejo, Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Jombang, Sabtu (14/3).
JombangBanget.id – Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kabupaten Jombang berlangsung khidmat.
Umat Hindu mengawali dengan prosesi Melasti, dilanjutkan Tawur Agung hingga pawai ogoh-ogoh di wilayah Wonosalam, Jombang, Rabu (18/3).
Ratusan umat Hindu menggelar Upacara Melasti di sumber air Dusun Tegalrejo, Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Jombang Sabtu (14/3).
Ritual tersebut menjadi momen penyucian diri dan benda sakral pura menjelang Nyepi.
Prosesi diawali arak-arakan dari Pura Giri Anjasmara menuju sumber mata air di lereng Gunung Anjasmoro.
Umat kemudian melaksanakan pengambilan tirta suci, persembahyangan bersama, serta pelarungan sesaji hasil bumi ke aliran sungai sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jombang Juwadi menyampaikan, Melasti menjadi ritual penting untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk.
”Melasti adalah upacara untuk membuang kotoran pikiran dan perilaku buruk atau karma buruk agar manusia kembali suci. Dalam ritual ini kita memohon kekuatan untuk menjalankan Catur Brata Penyepian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara tradisi Melasti dilakukan di laut. Namun, umat Hindu di Jombang melaksanakannya di sumber mata air karena kondisi geografis.
”Tujuannya tetap sama, sampai kepada Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Wisnu melalui aliran sungai dari sumber ini,” katanya.
Selain Melasti, umat Hindu juga menggelar Tawur Agung sebagai bagian dari rangkaian Nyepi.
Ritual ini dilanjutkan dengan pawai ogoh-ogoh yang menjadi simbol pembersihan unsur negatif.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi, pawai ogoh-ogoh digelar Rabu (18/3) mulai pukul 13.00 WIB.
Rute dimulai dari Dusun Ganten, Desa Wonomerto, melintasi Dusun Plumpung dan Dusun Sanggar, hingga finis di Dusun Wates, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam.
Juwadi menambahkan, perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”, yang mengandung makna seluruh manusia adalah satu keluarga.
“Tema ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam,” tuturnya.
Momentum Nyepi tahun ini juga berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Kondisi ini dinilai menjadi kesempatan memperkuat toleransi antarumat beragama di Jombang.
”Kesepakatannya, umat Hindu tetap menjalankan Catur Brata Penyepian, sementara saudara muslim menjalankan malam takbiran. Kita saling menghormati,” ucapnya.
Ia mengimbau umat Hindu untuk terus menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Terlebih jumlah umat Hindu di Jombang relatif kecil.
”Kita ini minoritas, jadi tetap menjaga toleransi dan menjalankan ajaran dengan damai,” katanya.
Data PHDI Jombang mencatat, jumlah umat Hindu sekitar 900 jiwa yang tersebar di Kecamatan Wonosalam, Bareng, Ngoro, hingga Jombang kota.
Sebagian merupakan warga pendatang yang telah lama menetap di Kota Santri. (ang/naz)