KALA ngaji usai salat tarawih di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Kamis (5/3/2026), KH Muhammad Najib Muhammad Al-Imam, selaku pengasuh, menjelaskan pentingnya sabar dan syukur.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Iman itu kalau dibelah dua, isinya yang separo sabar dan separo lagi syukur,’’ tuturnya.
Ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan diri dari makan dan minum.
Tetapi juga berkaitan dengan mahabbah atau cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala dan Rasulnya.
Mahabbah ini melahirkan sabar dan syukur dalam menjalani kehidupan.
Seorang muslim selalu dalam kebaikan. Saat mendapatkan ujian ia sabar. Saat memperoleh nikmat dia bersyukur.
Puasa sunah yang terbaik yakni puasa Nabi Dawud alaihissalam. Berpuasa sehari dan hari berikutnya tidak puasa.
Puasa tersebut menggambarkan keseimbangan antara dua keadaan manusia. Saat puasa dia sabar. Saat tidak puasa dia bersyukur.
Keseimbangan antara sabar dan syukur ini sejalan dengan yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Asroru Shoum.
Puasa adalah setengah dari kesabaran (ash-shoumu nishfu ash-shabr).
Kesabaran dalam berpuasa bukan sekadar menahan lapar secara jasmani.
Baca Juga: Gus Sentot Reses Ramadan di PP Darul Ulum, Tampung Aspirasi Warga Jombang
Melainkan sebuah strategi batin untuk mengendalikan hawa nafsu yang menjadi pintu masuk setan ke dalam hati manusia.
Ada enam adab batin yang harus dijaga agar kesabaran berbuah kesucian jiwa.
Pertama, menundukkan pandangan dari hal yang melalaikan hati.
Kedua, menjaga lisan dari ghibah, dusta, maupun pertengkaran. Ketiga, memelihara pendengaran dari hal-hal yang dilarang.
Keempat, menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Kelima, tidak berlebihan dalam mengisi perut saat berbuka, karena rasa syukur sejati justru muncul ketika seseorang merasakan nikmatnya rasa lapar yang hilang secara perlahan.
Dan keenam, memposisikan hati di antara rasa takut (khauf) dan harap (raja’) setelah berbuka, apakah puasanya diterima atau tidak.
Dengan mengosongkan perut dan menyibukkan diri dengan kesabaran, seorang hamba sebenarnya sedang memperluas kapasitas hatinya untuk bersyukur.
Ketika syahwat melemah akibat lapar, maka mata batin akan menjadi lebih tajam dalam menangkap nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang selama ini sering terabaikan.
Inilah kaitan erat antara sabar dan syukur dalam puasa. Kesabaran melahirkan kejernihan hati, dan dari kejernihan hati itulah muncul rasa syukur yang murni.
Allah menjanjikan bahwa siapa saja yang bersyukur atas nikmat yang diberikan, maka Allah akan menambah nikmat tersebut.
’’Sampean lak syukur Gusti Allah bakal nambah nikmate, tapi tandane wong seng syukur iku ora arep-arep tambah,’’ jelasnya.
Tanda seseorang benar-benar bersyukur bukanlah berharap agar nikmatnya terus ditambah.
Melainkan menerima dan memanfaatkan nikmat yang telah diberikan dengan penuh kesadaran dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Rasa syukur yang tulus akan melahirkan sikap rendah hati dan kesadaran bahwa segala nikmat berasal dari Allah semata.
Allah Ta’ala berfirman di QS Ibrahim 7; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.
Ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya ucapan di lisan, tetapi juga sikap hati yang diwujudkan melalui ketaatan dan penggunaan nikmat pada jalan yang baik.
Oleh karena itu, seorang santri tidak hanya dituntut untuk rajin beribadah, tetapi juga harus mampu menumbuhkan rasa syukur dalam setiap keadaan.
Pengajian pada hari ini juga merupakan penutupan pengajian kitab Asrorus Shoum yang menandakan telah khatamnya kitab cuplikan dari Ihya' 'Ulumiddin.
Menjelaskan hakikat batiniah ibadah puasa, bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Kitab ini membahas tiga tingkatan puasa (umum, khusus, dan khususnya khusus).
Serta adab-adab batin untuk mencapai puasa yang sempurna. (*)
Penulis:
Bilqis Putri Hafina, Santriwati Pondok Pesantren Al-Madienah Denanyar, Jombang
Editor : Ainul Hafidz