Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Ramadan dan Kasih Sayang Terbesar Allah Ta’ala (2-habis)

Ainul Hafidz • Minggu, 15 Maret 2026 | 07:01 WIB

KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang
KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang

KASIH sayang Allah di bulan Ramadan termanifestasi dalam tiga fase yang saling berkesinambungan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Ibnu Khuzaimah).

Dimensi pertama telah diurai sebelumnya.

Dimensi kedua magfirah, ampunan: Fase cuci jiwa dan kesadaran menjadi manusia.

Pengakuan jujur atas kerapuhan kita sebagai manusia yang tidak pernah luput dari debu-debu dosa.

Nabi bersabda dengan sangat indah; Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis ini bukan sekadar pemakluman atas dosa, melainkan sebuah panggilan optimisme.

Di pertengahan Ramadan, Allah menyediakan "mesin cuci spiritual" berskala besar. Segala noda kesombongan, prasangka buruk, lisan yang tak terjaga, hingga kelalaian hati, diberikan ruang seluas-luasnya untuk dibersihkan.

Kasih sayang Allah pada fase ini turun dalam bentuk penerimaan-Nya yang tanpa syarat bagi siapa saja yang mau merendahkan hati, menangis, dan menyesali perbuatannya di keheningan malam.

Lebih jauh lagi, dimensi Maghfirah ini sejatinya memiliki pantulan sosial.

Bagaimana mungkin kita mengharap ampunan Allah yang begitu luas, sementara hati kita masih sempit dan enggan memaafkan kesalahan sesama manusia?

Baca Juga: Bikin Salut, Ini yang Dilakukan Desa Galengdowo Jombang untuk Lansia dan Disabilitas di Bulan Ramadan

Oleh karena itu, maghfirah di bulan Ramadan mendidik kita untuk melepaskan dendam, menghapus kebencian, dan melapangkan dada memaafkan saudara kita.

Inilah fondasi penting sebelum kita merayakan hari kemenangan kelak; memastikan hablum minAllah (hubungan dengan Allah SWT) bersih melalui tobat, dan hablum minannas (hubungan antarmanusia) jernih melalui maaf-memaafkan.

Dimensi ketiga itqun minan nar (pembebasan dari api neraka).

Meraih kemerdekaan sejati. Hadiah puncak dari Sang Sultan Bulan: Pembebasan dari api neraka.

Inilah bukti kasih sayang Allah (Ar-Rahman Ar-Rahim) yang mencapai titik kulminasinya.

Di penghujung bulan ini, Allah Ta’ala tidak hanya memberi pahala atau sekadar mengampuni, tetapi langsung mencoret nama hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan keimanan dari daftar penghuni neraka, dan memastikannya sebagai ahli surga.

Pembebasan dari api neraka ini juga sarat akan makna filosofis. Api neraka sering kali direpresentasikan oleh nyala api hawa nafsu duniawi yang merusak: Amarah yang membakar, keserakahan yang menghanguskan akal sehat, hingga ego yang membumihanguskan keadilan.

Ketika Allah membebaskan kita dari api neraka di akhir Ramadan, itu berarti ibadah puasa kita telah berhasil memadamkan "api neraka" yang menyala di dalam diri kita sendiri.

Kita terlahir kembali menjadi manusia yang merdeka. Merdeka dari belenggu syahwat.

Merdeka dari penjajahan materi, dan sepenuhnya menjadi hamba Allah yang sejati.

Ini adalah keistimewaan luar biasa yang hanya eksklusif diberikan di bulan suci Ramadan.

Maka, sangat wajar jika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam dengan iktikaf, dan melipatgandakan ibadah di sepuluh hari terakhir ini, demi menjemput kemerdekaan agung tersebut.

Walhasil, di sisa hari menjelang perpisahan dengan Ramadan ini, pantang bagi kita untuk mengendurkan semangat.

Mari kita perbanyak amal kebaikan dan melangitkan doa-doa penebusan yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Aisyah RA untuk senantiasa dibaca di penghujung Ramadan:

Allahumma innaka 'afuwwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'anna ya karim (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah kami). (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Serta rutinkan pula doa pelebur dosa lainnya: Allahumma inna nas'aluka ridaka wal jannah wa na'udzubika min sakhatika wan naar.

Baca Juga: Turnamen Futsal OFS Ramadan Cup 2026 di Jombang Tuntas, Berikut Daftar Juaranya

(Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu rida-Mu dan surga, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan siksa neraka).

Semoga ibadah puasa kita diterima di sisi-Nya, dosa-dosa kita digugurkan, dan kelak kita semua senantiasa direngkuh dalam dekapan kasih sayang Allah Ta’ala sepanjang hayat.

Amin ya Rabbal 'alamin. (*)

Penulis:

KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang

 

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Allah SWT #MAN 3 Jombang #puasa #Guru Jombang #PP Bahrul Ulum #kasih sayang #Jombang #ramadan #guru #puasa ramadan #Tambakberas #Opini Ramadan