Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Ramadan dan Kasih Sayang Terbesar Allah Ta’ala (1)

Ainul Hafidz • Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:00 WIB

KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang
KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang

WAKTU bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, kita kini telah berada di etape akhir perjalanan spiritual bulan suci Ramadan.

Gema tadarus Alquran masih bersahutan di langgar dan masjid.

Namun terbersit keharuan menyadari bahwa sang tamu agung ini sebentar lagi akan pamit undur diri. Di sisa penghujung bulan puasa ini, mari kita sejenak bermuhasabah; Sejauh mana kita telah menyelami hakikat Ramadan sebagai hadiah terbesar dan terindah dari Allah Ta’ala kepada umat manusia?

Kasih sayang Allah di bulan Ramadan termanifestasi dalam tiga fase yang saling berkesinambungan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Ibnu Khuzaimah).

Tiga dimensi inilah yang menjadi bukti betapa besarnya panggung kasih sayang (rahman-rahim) yang digelar Allah khusus di bulan ini.

Pertama rahmat: Kunci menuju rida ilahi. Rahmat Allah adalah variabel terkuat yang dapat mengalahkan apa pun.

Seorang pendosa sekalipun, jika ia tersentuh oleh rahmat-Nya, maka ia akan seketika dekat dengan rida Allah.

Sebaliknya, seorang ahli ibadah ('abid) yang ibadahnya menggunung, jika hatinya luput dari rahmat-Nya, niscaya ia akan terjauhkan dari ridha ilahi.

Sebab, hakikat rahmat sangatlah identik dengan rida Allah Ta’ala.

Imam Abu Laits As-Samarqandi di Tanbihul Ghafilin (halaman 63), mengisahkan sebuah alegori yang sangat menampar kesombongan spiritual kita.

Dikisahkan pada zaman Nabi Musa alaihissalam, ada seorang yang sangat ahli ibadah bernama Syam’un.

Usianya yang mencapai 500 tahun dihabiskan hanya untuk bersujud kepada Allah di atassebuah gunung.

Sang 'abid memohon agar kelak diwafatkan dalam keadaan sujud, dan Allah pun mengabulkan.

Singkat cerita, di akhirat kelak saat berada di depan pintu surga, Allah bertanya melalui malaikat-Nya: "Engkau masuk surga dengan jalur amal-amalmu, ataukah dengan jalur rahmat-Ku wahai hamba-Ku?"

Dengan penuh percaya diri karena merasa ibadahnya tak tertandingi, ia menjawab, "Hamba masuk surga dengan jalur amal-amalku saja wahai Tuhanku."

Allah kemudian memerintahkan malaikat untuk menimbang antara amal 500 tahun itu dengan rahmat nikmat yang Allah berikan.

Ternyata, timbangan rahmat AllahSWT jauh melebihi amal ibadahnya.

Karena ia congkak memilih jalur amal yang ternyata tidak cukup sebagai "tiket" masuk surga, malaikat pun menggiringnya menuju neraka. 

Menyadari keangkuhannya, sebelum mencapai pintu neraka, hamba tersebut bersimpuh, memohon ampun, dan memelas agar dimasukkan ke surga murni karena rahmat Allah SWT.

Akhirnya, atas rahmat dan ridha-Nya, sang 'abid diselamatkan.

Kisah ini menegaskan bahwa seberapa pun besarnya amal ibadah kita di bulan Ramadan, yang sejatinya kita harapkan adalah rahmat-Nya.

Lalu, di manakah kita bisa menemukan rahmat itu? Alquran menjawab dengan lugas: Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-A'raf 56).

Rahmat itu tersebar dan bersembunyi di balik puasa, salat tarawih, tadarus, zakat, iktikaf, silaturahmi, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), hingga laku amar ma'ruf nahi mungkar yang kita kerjakan sehari-hari. (*)

Penulis:

KH M Syifa’ Malik MPdI, Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#opini #MAN 3 Jombang #puasa #Guru Jombang #PP Bahrul Ulum #Jombang #ramadan #guru #puasa ramadan #Waka Humas #Opini Ramadan