JombangBanget.id - Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Jombang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya zakat.
’’Zakat itu membersihkan. Sehingga jika tidak dikeluarkan justru akan menjadi penyakit,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Tarawih di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (26/2).
Dia mencontohkan orang yang tidak mengeluarkan kencing. Sehingga menyebabkan penyakit di kandung kemih.
Zakat memiliki dua fungsi utama: Membersihkan dan menumbuhkan keberkahan.
Orang yang berzakat bukan berkurang hartanya, tetapi justru disucikan dan ditenangkan jiwanya.
Allah Ta’ala berfirman di QS At-Taubah 103.
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan doakanlah mereka.
Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Zakat berfungsi seperti pembersih bagi harta manusia. Di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah harta bercampur dengan zakat yang tidak dikeluarkan melainkan ia akan merusaknya.
Harta yang tidak dizakati bisa menjadi sumber kerusakan. Baik kerusakan pada harta itu sendiri maupun pada kehidupan pemiliknya.
Allah juga berfirman di QS At-Taubah 34.
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka azab yang pedih.
Ada pedagang yang hartanya sangat banyak, tetapi ia tidak pernah mengeluarkan zakat.
Usahanya selalu bermasalah: Barang rusak, dagangan tidak laku, bahkan keluarganya sering bertengkar dan anaknya nakal.
Suatu hari ia bertemu seorang ulama yang berkata: ’’Periksa hartamu, mungkin ada hak orang miskin yang belum engkau keluarkan.’’
Setelah ia menghitung dan mengeluarkan zakat bertahun-tahun yang tertunda, usahanya perlahan membaik dan rumah tangganya kembali tenang.
’’Kerusakan dalam kehidupan bisa jadi karena harta yang tidak bersih,’’ ucapnya.
Ada sebuah sumur yang lama tidak dipakai. Airnya menjadi keruh, berbau, bahkan menjadi sumber penyakit. Maka orang harus mengurasnya agar kembali bersih.
Begitulah harta manusia. Jika tidak pernah dikeluarkan zakat dan sedekah, ia bisa menjadi sumber kerusakan.
Sedekah dan zakat adalah cara “menguras” harta agar kembali bersih dan sehat.
’’Sesuatu harus dibuang agar menjadi bersih,’’ ujarnya.
Contohnya khitan (sunat) pada laki-laki. Kulit yang menutupi ujung kemaluan dipotong agar menjadi lebih bersih dan suci.
Demikian pula zakat. Sebagian kecil dari harta kita dikeluarkan agar seluruh harta menjadi bersih.
Rasulullah bersabda: Sesungguhnya sedekah memadamkan murka Allah.
’’Orang dermawan seperti pohon mangga,’’ ucapnya.
Pohon mangga semakin besar dan terus berbuah. Walaupun buahnya sering dipetik orang, pohon itu tidak mati, bahkan semakin kuat dan besar.
Begitulah orang yang suka bersedekah. Hartanya mungkin berkurang secara angka, tetapi keberkahannya terus bertambah.
Allah berfirman QS Al-Baqarah 261. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu pernah memiliki hanya beberapa dirham. Ia tetap bersedekah sebagian darinya.
Beliau berkata: ’’Jika Allah menjanjikan balasan berlipat, mengapa aku harus takut miskin?’’
’’Orang pelit seperti tanaman ketela. Tanaman ketela (singkong) menyembunyikan buahnya di dalam tanah. Untuk mengambil hasilnya, tanaman itu harus dicabut, dan setelah itu pohonnya mati.
Begitulah orang pelit. Ia menyimpan hartanya rapat-rapat, tetapi ketika musibah datang—penyakit, kebangkrutan, atau kematian—hartanya habis sekaligus.
Rasulullah bersabda: Jagalah diri kalian dari sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz