ILAFIHIM Rihlah al-syita wa al-shaif. Wong Arab berdagang ke luar negeri, ke Syam dan ke Siria.
Muhammad muda melakukan perdagangan itu bahkan sejak kecil pernah diajak kakeknya ke sana.
Dalam perjalanan, sang kakek menemukan keajaiban-keajaiban cucunya tersebut.
Seorang pendeta mendekati sang kakek dan menyuruhnya segera kembali. ’’..Cepetan, ndhang mulio..sekarang’’.
Ya, karena pendeta jujur itu menemukan tanda-tanda kenabian di dalam diri bocah tersebut.
Ciri-ciri tersebut telah maklum di kalangan mereka karena tersebut dalam kitab suci.
Mereka menunuggu dan umumnya ingin melenyapkan sang bocah, karena dianggap ancaman.
Salah satu tandanya adalah di punggung Muhammad ada semacam block kenabian.
Tanda yang lebih menguatkan adalah, si Muhammad kecil sakit mata dan tidak sembuh-sembuh.
Sang kakek memeriksakan ke seorang pendeta Yahudi yang terkenal ahli pengobatan. Pendeta ahli pengobatan itu malah mengusir.
’’Mbah, segera pulang, cepetan. Bawa pulang cucu sampean, demi keamanan. Cucumu ini calon nabi besar akhir zaman’’.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Quraish-2
Mbah Abd al-Muttalib bengong sejenak dan berkata: ’’Yo, terus piye mripate putuku iki, sakit kayak gini, kasihan. Pulang ya pulang, tapi tolong.. obatilah dahulu ?’’
Pendeta itu tersenyum dan berkata: ’’..Kok ngeyel. Asal ente tahu saja, bahwa sakit mata ini, walau sampean obatkan ke mana saja tidak akan sembuh. Sebab obatnya ada di diri bocah sendiri’’.
Sang pendeta melanjutkan wejangannya: ’’Bi rihih al-thahirah..’’
Setibanya di rumah nanti, segera obati dengan air ludahnya sendiri. Lalu dipraktikkan dan betul, mata Muhammad sembuh total seketika.
Mbah Abdul Muttalib diam terkagum.
Dalam kurikulum perdukunan ada premis begini, ’’Menungso iku ora biso nyebul kelilipe dewe ..’’
Manusia itu tidak bisa meniup matanya sendiri saat terkena kelilip, benda lembut yang masuk mata. Mesti meminta bantuan orang lain.
Artinya, para dukun hanya sakti ketika mengobati orang lain, tapi, biasanya tidak manjur mengobati atau nyuwuk keluarganya sendiri.
Nah, Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sungguh melampuai kurikulum perdukunan tersebut.
Dia, selain rahmah bagi al-alamin, bagi umat, dia juga bisa rahmah bagi diri sendiri.
Tidak hanya pendeta yang menyaksikan tanda kenabian seorang Muhammad, termasuk Maisarah, budak pria yang ditugasi majikannya, Khadijah, mendampingi Muhammad muda berdagang ke Syam dan Siria, ’’Rihlah al-Syita wa al-Shaif’’’.
Setibanya di rumah, Maisarah laporan ke majikan, bahwa selama perjalanan bisnis dan menempuh rute panjang sekali, baik pergi maupun pulang selalu istimewa, nyaman, aman dan luar biasa.
Ibu Khadijah terperanjat: ’’Piye karepmu..?’’
Maisarah menceritakan: ’’Gini bu, cuaca tengah hari di gurun pasir kan puanas banget. Tapi aneh, aneh sekali, justru sejuk, adem dan nyaman sekali. Setelah saya lihat ke atas, ternyata ada awan gelap yang dekat sekali dan memayungi sepanjang perjalanan kami..’’
Mendengar kesaksian Maisarah, pasti saja Khadijah makin kemecer ingin ’’memiliki’’ Muhammad muda. Pesan kisah ini ..? (Bersambung, in sya’ Allah )
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz