JombangBanget.id - Banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, Jombang meninggalkan trauma mendalam bagi petani.
Meski air sudah surut, sebagian besar petani memilih tidak menanam ulang padi karena khawatir banjir kembali terjadi dan menambah kerugian.
Kepala Desa Gedongombo, Lasiman, menyebutkan banyak lahan kini sengaja dibiarkan kosong.
Petani enggan mengambil risiko setelah berkali-kali gagal panen akibat tanaman terendam banjir.
”Sekarang sudah tidak ditanami lagi. Petani khawatir banjir lagi dan malah rugi,” ujarnya.
Sebelumnya, petani sempat mencoba menanam ulang setelah banjir pertama. Namun usaha itu kembali gagal karena banjir susulan.
”Kemarin itu sudah beberapa kali tanam. Kebanjiran, lalu ditanami lagi dan kebanjiran lagi,” imbuhnya.
Sebagian padi yang tersisa dibiarkan tumbuh seadanya. Kondisinya tidak normal sehingga hasil panen dipastikan menurun.
”Istilahnya dibiarkan saja di sawah. Tetap ada yang hidup, tapi sudah tidak normal lagi. Nanti panennya jelas berkurang,” jelas Lasiman.
Menurutnya, jika petani memaksakan tanam ulang, kerugian justru semakin besar. Karena itu, mereka memilih menunggu hasil seadanya.
”Kalau dipaksa tanam ulang ruginya makin banyak. Petani ini sudah menyerah, nanti dapatnya ya seberapa adanya,” katanya.
Baca Juga: Dampak Banjir Sawah di Jombang Terus Didata, Bantuan Benih Padi Menyusul
Luas lahan yang dibiarkan tanpa penanaman ulang mencapai lebih dari 30 hektare, tersebar di Dusun Kalianyar sekitar 18 hektare, Dusun Sukoanyar 28 hektare, serta Dusun Kalimati.
Sementara itu, sawah yang tidak terdampak banjir kini mulai berbulir dan diperkirakan bisa dipanen setelah Lebaran.
Namun lahan yang sempat terendam dipastikan tidak bisa panen bersamaan.
”Yang tidak kebanjiran itu perkiraan setelah Lebaran sudah mulai panen. Yang kena banjir ini jelas tidak bisa panen bareng,” ujarnya.
Seperti diberitakan, banjir melanda Desa Gedongombo sejak Kamis (5/2) dan merendam sedikitnya 100 hektare sawah.
Meski air surut sehari kemudian, dampaknya masih membayangi petani hingga kini. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz