JombangBanget.id - Juru bicara PKS di DPRD Jombang, H Heri Santoso ST, menjelaskan besarnya pahala puasa Ramadan.
’’Ada tiga amalan yang pahalanya sangat besar. Saking besarnya sampai tidak terhingga,’’ tutur ketua takmir Masjid Al Ikhlas Makarya Binangun, Wadungasri, Waru Sidoarjo ini.
Pertama pahala puasa. Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi; Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa.
Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.
’’Pantas pahala sangat besar karena hasil dari puasa Ramadan adalah takwa,’’ ungkap direktur PT Pilar Indo Abadi ini mengutip QS Albaqarah 183.
Orang bisa berubah karakternya karena puasa Ramadan.
’’Setelah Ramadan harus semakin mampu ngempet tidak maksiat,’’ kata alumni SMAN 2 Jombang dan ITS Surabaya ini.
Selama Ramadan kita diharuskan menahan dari makan minum yang halal. Maka setelah Ramadan kita harus mampu menahan dari yang haram.
Serta menahan diri dari membicarakan aib orang lain.
’’Misalnya di luar kota kita melihat tetangga yang berbuat jelek. Hanya kita yang tahu. Maka harus bisa menahan diri untuk tidak menyebarkannya,’’ urai pria asal Desa Sepanyul Kecamatan Gudo, Jombang ini.
Juga menahan diri dari marah ketika mobil dipotong orang.
Baca Juga: H Heri Santoso ST: Menjadi Santri Selamanya
Puasa juga merubah karakter menjadi lebih peduli.
’’Masuk toilet masjid, ada orang lupa tidak disiram BABnya. Mampukah kita kemudian membersihkan. Kebanyakan ngalih,’’ ungkap anggota Komisi C DPRD Jombang ini.
Kedua, amalan yang pahalanya sangat besar yakni memaafkan.
Anggota DPRD Jombang yang terpilih melalui dapil IV yang meliputi Kecamatan Gudo, Ngoro, Perak dan Bandarkedungmulyo ini mengutip QS Assyura 40: Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah.
’’Mudah memaafkan ini juga ciri orang bertakwa,’’ katanya mengutip QS Ali Imron 134.
Ketiga, amalan yang pahalanya sangat besar yakni sabar. Sebagaimana disebutkan di QS Azzumar 10: Sesungguhnya orang-orang yang bersabar pahalanya tanpa batas.
Baik sabar dalam melaksanakan ketaatan, menjauhi larangan, menahan marah dan terutama sabar dalam menerima takdir.
’’Di antara makna Islam itu pasrah atau sumeleh. Sering kali kita temui saat besuk orang sakit parah, mereka seolah-olah wajahnya marah, tidak terima. Tidak berserah diri,’’ bebernya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz