Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Ini Keutamaan Puasa, dari Menahan Lapar hingga Menghidupkan Sifat Malaikat

Rojiful Mamduh • Minggu, 1 Maret 2026 | 09:13 WIB

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Ustad Addin Mustaqim Alhafiz dari PP Al Amanah, Ngledok, Desa Mojokrapak, Tembelang, Jombang, menjelaskan pentingnya puasa.

’’Puasa mematikan sifat setan dan menghidupkan sifat malaikat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (25/2).

Tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan.

Ini kondisi hati yang selalu merasa diawasi Allah Ta’ala, sehingga ringan dalam ketaatan dan berat meninggalkan maksiat.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Puasa adalah perisai. Yakni dari api neraka, dari syahwat, dari amarah, dan dari tipu daya setan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, dalam diri manusia ada empat potensi sifat.

Puasa berfungsi untuk menundukkan tiga sifat buruk agar tersisa satu sifat mulia seperti malaikat.

Pertama sifat hewan ternak (Al-Bahimiyah). Seperti kerakusan, ketamakan, dan mengikuti syahwat.

Allah Ta’ala berfirman di QS Yusuf 53. Sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan.

Sifat ini tampak dalam cinta berlebihan pada makan, minum, harta, dan kenikmatan dunia.

Puasa memukul langsung sumbernya: perut dan syahwat. Orang yang biasa makan sesuka hati kini menahan diri karena Allah Ta’ala.

Baca Juga: Binrohtal: Ternyata Surga Merindukan Orang dengan Empat Amalan Ini

Rasulullah bersabda: Wahai para pemuda, barangsiapa belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai baginya.

Imam Al-Ghazali berkata, awal kehancuran hati adalah kenyang berlebihan. Para ulama salaf sering mengurangi makan agar hati mereka lembut.

Puasa mengajari kita bahwa hidup bukan untuk makan, tetapi makan untuk beribadah.

Kedua sifat hewan buas (Al-Sabu’iyah). Marah, agresif, ingin menang sendiri dan zalim.

Allah berfirman tentang ciri orang bertakwa di QS Ali Imran 134. Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.

Rasulullah bersabda: Jika salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan marah.

Jika ada yang mencacinya, katakanlah: Aku sedang berpuasa.

Puasa melatih kesabaran. Orang lapar mudah marah, namun justru di situlah latihannya.

Suatu hari seorang lelaki mencaci Sayyidina Abu Bakar radiyallahu anhu. Rasulullah hanya tersenyum ketika Abu Bakar diam.

Namun saat Abu Bakar membalas, Rasulullah pergi. Beliau bersabda, ’’Tadi malaikat membelamu, ketika engkau membalas, setan datang.’’

Puasa mendidik kita memilih diam daripada membalas.

Ketiga sifat setan (Al-Syaithaniyah). Sombong, iri, penipu dan pendusta. Allah berfirman tentang kesombongan iblis di QS Al-A’raf 12. ’’Aku lebih baik darinya.’’

Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.

Puasa meruntuhkan kesombongan. Saat lapar, kita sadar bahwa kita makhluk lemah.

Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah memikul gandum sendiri untuk rakyatnya.

Ketika seseorang menawari menggantikan memikul, dia berkata, ’’Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?’’

Puasa melahirkan empati. Orang yang lapar akan mengerti penderitaan orang miskin. Serta meruntuhkan kesombongan.

Keempat sifat malaikat (Al-Malaikiyah). Mulia, cerdas, taat dan suci. Allah berfirman tentang malaikat di QS At-Tahrim 6.

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Inilah sifat yang ingin ditinggikan melalui puasa.

Ketika syahwat melemah, amarah terkendali, dan kesombongan runtuh, maka hati menjadi ringan untuk taat.

Imam Syafi’i mampu mengkhatamkan Alquran 60 kali di bulan Ramadan. Ini karena hati beliau bersih dan ringan dalam ketaatan. (jif/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #sifat #puasa #keutamaan puasa #masjid #Binrohtal #Jombang #ramadan #Malaikat