JombangBanget.id - Direktur Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang Dr KH Achmad Roziqi, menjelaskan pentingnya bekerja kala puasa.
’’Bekerja saat puasa berarti ibadah dalam ibadah sehingga mendapatkan pahala berlipat ganda,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (25/2).
Bekerja secara halal untuk menafkahi keluarga, agar tidak bergantung kepada orang lain, melalui perdagangan atau profesi yang terhormat, termasuk di antara ibadah terbaik dan ketaatan paling mulia yang pahalanya disimpan untuk akhirat.
Kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari pengabdian.
Nafkah yang diberikan kepada keluarga bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi wujud tanggung jawab syar‘i.
Kemandirian ekonomi bukan hanya capaian sosial, melainkan penjagaan martabat yang diridai Allah Ta’ala.
Seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah: ’’Apakah aku sebaiknya bekerja?’’
Ia menjawab, ’’Ya. Dan bersedekahlah dari kelebihan hartamu kepada kerabatmu.’’
Jawaban ini sederhana namun mendalam. Bekerja tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan diri, tetapi melahirkan kebermanfaatan sosial.
Ada dimensi distribusi dan solidaritas dalam kerja.
Sebagian salaf berkata: ’’Jika engkau memakan yang halal, engkau telah taat kepada Allah, suka atau tidak suka. Jika engkau memakan yang haram, engkau telah bermaksiat kepada-Nya, suka atau tidak suka.’’
Halal-haram bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan konsekuensi moral yang melekat pada setiap suapan.
Maka pertanyaan pentingnya: bagaimana kita menjauhi yang haram?
Jawabannya rasa takut dan sadar akan pengawasan Allah Ta’ala. ’’Puasa melatih kita ikhlas dan muraqabah sehingga melahirkan takut kepada Allah Ta’ala,’’ tegasnya.
Muraqabah adalah kesadaran terus-menerus seorang hamba bahwa Allah senantiasa melihatnya dalam seluruh keadaan.
Puasa adalah madrasah muraqabah. Saat berpuasa, seseorang bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui manusia.
Namun ia tidak melakukannya, karena yakin Allah mengetahui.
Di sinilah puasa membentuk fondasi etika kerja.
Jika dalam urusan makan-minum yang tersembunyi saja ia jujur, maka dalam transaksi, laporan, jabatan, dan tanggung jawab publik seharusnya ia lebih menjaga diri.
Puasa sarana untuk melatih keikhlasan dan muraqabah. Seorang yang berpuasa sadar bahwa hakikat puasanya tidak diketahui siapa pun selain Allah.
Jika ia ingin membatalkan puasanya tanpa diketahui orang lain, ia bisa saja melakukannya.
Tidak ada yang mengawasi secara lahiriah.
Namun yang menahannya adalah kesadaran bahwa Allah melihatnya, dan yang mendorongnya untuk terus berpuasa adalah keinginan meraih rida-Nya.
Kesadaran ini harus dibawa ke ruang kerja. Seorang pegawai yang merasa diawasi kamera mungkin akan disiplin.
Tetapi seorang yang merasa diawasi Allah akan jujur meski tanpa kamera. Seorang pedagang yang takut pada sanksi hukum mungkin enggan menipu.
Tetapi seorang yang takut kepada Allah tidak akan curang meski ada celah.
Orang yang merasa diawasi Allah akan takut dan bertakwa kepada-Nya, lalu menghadap kepada segala hal yang mendatangkan rida-Nya.
Ia akan jujur ketika berbicara, menepati janji ketika berjanji, menunaikan amanah, sabar saat mendapat musibah, dan bersyukur saat mendapat nikmat.
Puasa melatih pengendalian diri, membiasakan kejujuran tersembunyi, dan menumbuhkan rasa cukup. Dari sana lahir etos kerja yang bersih. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz