JombangBanget.id - Banjir kembali merendam lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Jombang.
Berdasarkan pendataan Petugas Penyuluh Pertanian (PPL), total sekitar 75 hektare sawah di tiga desa terdampak luapan Kali Marmoyo.
Biaya operasional petani membengkak lantaran harus berulangkali mengganti tanaman.
Koordinator PPL Kecamatan Ploso, Syaifudin, menjelaskan banjir kembali menggenangi areal sawah sejumlah desa di Kecamatan Ploso.
Antara lain di Desa Gedongombo, Jatigedong, dan Desa Ploso.
”Di Gedongombo sekitar 50 hektare, tidak seperti kemarin yang sempat sampai 100 hektare. Di Jatigedong antara 15-20 hektare, sedangkan di Desa Ploso sekitar 5 hektare karena lokasinya mepet Jatigedong,” terangnya, Jumat (13/2).
Banjir sudah berlangsung sejak Kamis (12/2) dan hingga Jumat (13/2) belum surut.
Kondisi tersebut sangat bergantung pada debit Kali Marmoyo.
Jika hujan deras kembali turun dan air meluber, sawah berpotensi kembali terendam meski sebelumnya sempat surut.
Banjir berulang kali ini berdampak besar terhadap tanaman padi.
Tanaman yang masih berusia muda banyak yang membusuk sehingga harus ditanam ulang.
Baca Juga: Alat Berat Milik PJT Ditarik, Pemkab Jombang Gunakan Long Arm Tangani Sumbatan Kali Marmoyo
Sementara tanaman yang sudah lebih besar juga terdampak karena pupuk yang telah diberikan ikut hanyut terbawa air.
”Yang masih kecil otomatis tanam ulang karena sudah busuk. Yang sudah besar pun pertumbuhannya terganggu. Pupuknya hanyut, jadi dampaknya jelas ke produktivitas, pasti turun,” jelas Syaifudin.
Sebagian petani bahkan sudah tiga kali melakukan penanaman ulang akibat banjir yang terus berulang. Hal itu membuat biaya operasional semakin membengkak.
”Petani sudah kami tanyakan, mereka sudah tiga kali tanam. Mati, tanam ulang, kena banjir lagi, begitu seterusnya. Biaya tanam jadi lebih banyak,” ujarnya.
Untuk lahan yang sudah terdeteksi melakukan tanam ulang, berada di Desa Jatigedong seluas sekitar 15 hektare.
Sementara di Gedongombo belum dilakukan tanam ulang karena air masih menggenang.
”Kalau air sudah surut, jelas tanam ulang, apalagi di Gedongombo yang paling luas,” pungkasnya. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz