Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Quraish

Ainul Hafidz • Sabtu, 7 Februari 2026 | 07:54 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

QURAISH atau Quraisy adalah nama seorang pembesar dari salah satu suku di Arab.

Namanya yang agung itu lalu menajadi nama suku. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam lahir dari suku ini.

Lalu, surah kaji yang membicarakan mereka, tradisi dan serba-serbinya dinamai surah Quraish.

Pada urutan surah dalam al-mushaf, surah Quraish ada setelah surah al-Fil yang tafsirnya kita kaji kemarin.

Pendekatan munasabah bain al-suwar, relevansi makna antar surah di dalam mushaf Alquran menunjuk, bahwa ini sebagai munasabah ’’Tawashul’’ berkesinambungan.

Artinya, urutannya harus begitu: al- Fil dulu, baru sambung Quraish dan tak bisa dibalik.

Begini: Globalnya, surah al-Fil itu membicarakan penghancuran Tuhan atas tentara gajah pimpinan raja Abraha yang hendak membinasakan rumah-Nya, Kakbah.

Padahal Kakbah itu memberkehi, memberi manfaat dan menebar barakah ke seluruh dunia. Kakbah adalah punjer ekonomoni dunia. Qiyama li al-nas.

Perdagangan dan kegiatan ekonomi ramai terjadi di sekitar Kakbah, dari dulu sampai seterusnya.

Termasuk pasar dan perhotelan. Ketua Asosiasi Pilot Inggris secara terbuka menyatakan berterima kasih kepada Kakbah.

Karena dengan adanya Kakbah, rute penerbangan ke Arab Saudi ramai dan itu rezeki tersendiri.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Kafir (2)

Belum munculnya biro perjalanan di dunia yang membidangi haji dan umrah, termasuk di negeri ini. Malah yang nakal, mengkomersilkan dan korupsi diduga ada.

Kebacut. Kok kolu nguntal duit haram terkait urusan Baitullah. Kok yo gak takut kualat.

Lalu, diiringi surat Quraish yang bertutur soal perdagangan lintas suku, lintas negara, perdagangan internasioanal yang dilambangkan dengan ’’Rihlah”.

Ada Rihlah al-syita’, musim dingin dan ada rihlah al-shaif, musin panas.

Dari munasabah kedua surah ini, yang pertama al-Fil, lambang penuntasan masalah, pemberantasan pengganggu, pemusnahan semua yang negatif.

Kemudian disusul surah Quraish ini yang menggambarkan usaha posisif, penataan ekonomi lokal, pembangunan ekonomi global, maka fuqaha’ berasumsi, bahwa tampilan dua surat ini menjadi dasar kaidah fiqhiyah: Dar’ al-Mafasid Muqaddam ‘ala Jalb al-mashalih.

Memberantas semua kenegatifan harus dilakukan lebih dulu sebelum membangun kemaslahatan. 

Makanya, kalau negeri ini mau sejahtera, gemah ripah loh jinawe yo harus menghabisi para bajingan, menghukum mati para koruptor, pemalak hutan, perusak lingkungan, tambang lebih dahulu sebelum menata ekonomi.

Dari pada menyelamatkan nyawa segelintir bajingan tentu lebih wajib menyelamatkan nyawa orang banyak.

Sayangnya para ulama’, ilmuwan lebih memilih diam ketimbang berjuang mati-matian memberantas bajingan.

’’Maraknya kebatilan di negeri ini sungguh bukan karena kebatilan itu kuat, tetapi karena orang baik, orang saleh, kiai, ulama diam tak bergerak”. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

 

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #kakbah #Quraish #Jombang #Tafsir Aktual #makkah