JombangBanget.id – Panen bawang merah di Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan, Jombang memasuki puncak dengan hasil yang melimpah.
Namun harga justru turun di tingkat petani. Sehingga keuntungan yang diperoleh belum sebanding dengan tingginya biaya produksi.
Kondisi itu salah satunya dirasakan Aan Purnomo.
’’Kalau normal, dari bibit 1,5 kuintal bisa panen kurang lebih 1,5 ton. Tapi, sekarang harganya cuma di kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram,’’ katanya Jumat (30/1/).
Padahal biasanya masih di atas Rp 20 ribu per kilogram.
Panen kali ini dilakukan pada usia tanam 58 hari dengan kualitas yang tergolong bagus.
Hanya saja, proses budidaya tidak berjalan mudah karena tingginya curah hujan sepanjang musim tanam.
Selain faktor cuaca, serangan hama ulat turut meningkatkan risiko selama masa tanam. Di sisi lain, biaya produksi yang dikeluarkan petani terbilang besar.
Harga bibit bawang merah mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Total modal dari pengolahan lahan hingga panen bisa menembus Rp 25 juta.
”Dengan harga seperti ini hampir tidak ada untungnya. Kami berharap harga bisa stabil supaya petani masih bisa bertahan,” ujarnya.
Situasi serupa juga disoroti Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan Yus Ardi Baskoro.
Ia menjelaskan, total luas tanam bawang merah di Kecamatan Plandaan sekitar 30 hektare, dengan sentra terbesar berada di Desa Darurejo, disusul Desa Kampung Baru, dan Desa Purisemanding, serta Desa Klitih.
Tantangan utama budidaya bawang merah awal tahun, faktor cuaca.
Intensitas hujan yang tinggi membuat tanaman rentan terserang penyakit jamur serta hama ulat grayak yang dapat menurunkan produktivitas.
”Kondisi lembap memicu penyakit jamur, sementara ulat grayak juga cukup mengganggu pertumbuhan tanaman,” jelasnya.
Untuk menekan risiko kerugian, PPL mendorong petani melakukan pengendalian rutin menggunakan fungisida dan insektisida, serta mulai diarahkan ke metode pengendalian hama ramah lingkungan.
Dalam kondisi ideal, lahan seluas 0,14 hektare bisa menghasilkan 1,6 hingga 2 ton bawang merah, namun hasil tersebut bisa turun signifikan jika serangan hama tidak terkendali.
Meski dihadapkan pada cuaca ekstrem dan fluktuasi harga, Yus menilai, prospek bawang merah di Plandaan masih cukup menjanjikan.
Karakter tanah liat yang sesuai serta dukungan irigasi tadah hujan menjadi keunggulan tersendiri.
Bahkan, minat petani muda untuk mengembangkan komoditas ini terus meningkat.
”Masa tanamnya memang singkat, tapi butuh penanganan cepat. Sekarang mulai banyak petani milenial yang tertarik karena peluangnya masih besar,” ungkapnya. (riz/fid)
Editor : Ainul Hafidz