JombangBanget.id - Nasib korban longsor gelombang kedua di Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Jombang hingga kini masih bertahan di hunian sementara (Huntara).
Berbeda dengan korban longsor 2024 yang sudah memiliki lahan relokasi, puluhan warga terdampak longsor Januari 2025 belum terakomodasi.
Hunian tetap (huntap) belum terbayang, bahkan pengadaan lahannya pun masih sebatas rencana.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang Syaiful Anwar mengatakan, pengadaan lahan huntap bagi korban longsor gelombang kedua masih berada pada tahap perencanaan awal.
Fokus utama saat ini adalah penentuan lokasi yang benar-benar aman.
”Sekarang masih kami rencanakan. Tahun ini setelah pemetaan dari BPBD, karena memang zona merah semua, nanti dicari lokasi penentuan zona amannya ada di mana,” ujarnya.
Bencana longsor gelombang kedua pada Januari 2025 berdampak pada sekitar 28 kepala keluarga.
Mereka terdiri atas warga yang rumahnya rusak akibat longsor serta warga yang bermukim di kawasan rawan.
”Untuk tahap kedua ini, ketika direlokasi semuanya itu ada sekitar 28-29 rumah. Hasilnya nanti kami laporkan ke Abah Bupati (Warsubi) untuk petunjuk selanjutnya, apakah semuanya harus direlokasi atau bagaimana keputusannya,” imbuhnya.
Meski kajian awal pascabencana telah rampung, Pemkab Jombang belum dapat melangkah ke tahap pengadaan lahan.
Pemerintah daerah masih memerlukan feasibility study (FS) untuk memastikan aspek keselamatan dan teknis pembangunan huntap.
Baca Juga: DPRD Jombang Desak Pemkab Beri Kepastian, soal Huntap Korban Longsor Wonosalam
”Kajian awalnya sudah selesai. Tetapi untuk menunjang teknisnya juga harus ada FS terlebih dahulu untuk menentukan lokasi paling aman ada di daerah mana,” jelasnya.
Jika hasil FS telah keluar, pengadaan lahan huntap baru bisa diajukan melalui Perubahan APBD (P-APBD) 2026.
Hingga kini, rencana tersebut belum masuk dalam APBD reguler.
”Kalau FS sudah keluar, paling cepat kita ajukan di P-APBD 2026. Jadi sekarang masih tahap persiapan,” tuturnya.
Sebagai catatan, longsor pertama terjadi di Dusun Jumok, Kecamatan Wonosalam, pada 7 Februari 2024.
Peristiwa tersebut merusak belasan rumah dan memaksa puluhan warga mengungsi.
Saat itu, Pemkab Jombang menyediakan hunian sementara (huntara) melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).
Namun bencana kembali terjadi pada Januari 2025 dan menelan dua korban jiwa.
Warga yang berada di zona merah direlokasi dan hingga kini masih bertahan di huntara.
Total warga yang direlokasi pascabencana 2025 mencapai sekitar 28 kepala keluarga, termasuk mereka yang tinggal di kawasan rawan longsor. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz