SEPERTI yang dilakukan kakek Abdul Muttalib, pasrah dan gak mikir blas nasib Kakbah, rumah Tuhan yang akan dihancurkan raja Abraha, nyatanya Kakbah selamat, utuh, malah Abraha dan tentaranya hancur lebur seperti pakan yang dimakan hewan, unta, sapi, dan sebagainya.
Ka’ashf ma’kul.
Kata ’ashf lebih umum maknanya, meliputi semua makanan ternak, termasuk rerumputan, dedaunan, gandum dan lain-lain.
Ini tasybih baligh, bahasa kiasan yang menggambarkan kondisi tentara Abraha yang hancur mengerikan. Sapi, misalnya, mempunyai gaya makan tersendiri.
Rerumputan, dedaunan memang dikunyah dan ditelan masuk perut.
Tapi setelah itu dikunyah ulang sambil santai (ganyemi) dan hasilnya menjadi sangat lembut dibanding kunyahan pertama.
Bisa dibayangkan seperti apa kehancuran Abraha dan tentaranya. Tak berkutik apa-apa, seperti rerumputan yang diam saja saat dikunyah.
Dalam syari’ah, kita memang diwajibkan berikhtiar secara sungguh-sungguh.
Baru berittikal, pasrah kepada-Nya. Ikhtiar itu kewajiban manusia, sedangkan hasil adalah kewenangan Tuhan. Secara umum, ikhtiar gede, hasilnya gede.
Ya, tapi tidak ada korelasi positif. Tidaklah, ikhtiar besar pasti menghasilkan hasil besar dan sebaliknya.
Berusahalah saja mencari nafkah, bekerjalah dan itu ibadah berpahala, titik.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Kafir (2)
Biar Tuhan sendiri yang menentukan basaran rezeki yang anda terima.
Ingat kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim alaihissalam yang mondar-mandir dari bukit Shafa ke bukit Marwah hingga tujuh kali demi mendapatkan air minum.
Hasilnya..? kosong.
Eh, Isma’il bayi, hanya sekedar menghentak-hentakkan tumitnya ke tanah, tiba-tiba cuurr..
Keluar air segar sekali dari tanah, air Zamzam dan manfaat hingga sekarang. Seberapa kuatkah hentakan tumit bayi itu.. dan bisakah melubangi tanah..?
Tentu tidak, tapi itu sudah merupakakan ikhtiyar, meski sangat-sangat kecil sekali.
Jadi, di kehidupan ini ada yang memang tugas manusia sesuai rasionalitasnya dan segala pirantinya disediakan.
Manusia harus melalui jalur itu supaya sukses. Seperti semua yang terkait dengan hukum alam atau tehnologi. Kalau tidak ada bahan bakar, maka mobil tak bisa jalan.
Kalau tak gali tanah sedalam sekian meter, maka air tak didapat. Dan seterusnya. Ya, tapi ada yang di luar itu.
Seperti rezeki nomplok. Diam di rumah, ada tamu memberi uang. Tidak ikut tahlilan, tapi dikirimi berkat. Pertanyaannya: Siapa Dalang yang mengatur di balik itu ?
Yang menggiring tamu ke rumah anda, mengantarkan uang atau berkat.. siapa..?
Lebih dari itu adalah level mentok dan supra-rasional. Kayak yang dilakukan kakek Abdul Muttalib. Sang kakek sadar kalau dirinya tak mampu apa-apa, sama sekali.
Lalu pasrah total. Jadinya, Tuhan sendiri yang turun tangan. Anda punya persoalan berat, berat sekali.
Baik problem pribadi, rumah tangga atau apa, maka jangan sekali-sekali dipikir sendiri, ditangani sendiri.
Itu kesombongan. Tanganilah secara wajar dan serius, lalu libatkan, libatkan dan libatkan peran Tuhan. Dia pasti hadir dengan cara-Nya Sendiri. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz