Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Langganan Banjir, Petani Jombang Teriak Minta Solusi Nyata

Anggi Fridianto • Selasa, 20 Januari 2026 | 07:02 WIB
SURUT: Kondisi sawah di Dusun Mernung Lor Desa Sumbernongko Kecamatan Ngusikan, Jombang mulai surut usai tergenang banjir beberapa hari lalu.
SURUT: Kondisi sawah di Dusun Mernung Lor Desa Sumbernongko Kecamatan Ngusikan, Jombang mulai surut usai tergenang banjir beberapa hari lalu.

JombangBanget.id – Pemkab Jombang diminta mencari solusi konkret menyusul ratusan hektare sawah di Jombang yang kebanjiran setiap tahun.

Sebab, banjir dinilai membuat petani merugi besar.

Mulai ongkos tanam yang membengkak hingga merugi akibat gagal panen.

Kepala Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, Lasiman, menyampaikan banjir yang melanda area persawahan di desanya terjadi berulang sejak beberapa hari terakhir.

Air sempat surut, lalu naik kembali. Kondisi itu membuat tanaman padi tidak mampu bertahan.

”Kalau banjir sampai sepuluh hari, padi pasti mati. Tiga hari masih bisa tertolong, ini delapan hari lebih,” kata Lasiman kepaada Jawa Pos Radar Jombang, (19/1).

Ia menyebut sedikitnya 100 hektare lahan pertanian di wilayah Gedongombo dan wilayah desa sekitar yang terdampak banjir.

Selain merusak tanaman, banjir juga membawa lumpur tebal serta tumpukan kayu ke area persawahan.

Lasiman menilai, pendangkalan sungai menjadi penyebab utama luapan air.

Ia menemukan banyak tumpukan kayu dan sampah tersangkut di bawah jembatan. Arus sungai tersendat, lalu meluber ke permukiman dan sawah.

”Air balik karena sungai dangkal dan banyak sangkrah nyangkut. Akhirnya meluber ke kampung dan sawah,” ujarnya.

Baca Juga: Gagal Panen Akibat Banjir, Disperta Jombang Catat 85 Hektare di Ngusikan Puso

Ia mendorong ada solusi konkret yang dilakukan pemerintah. Misalnya, normalisasi Sungai Marmoyo dilakukan menyeluruh dan rutin jelang musim hujan.

Menurutnya, sebagian titik sudah tersentuh pengerukan, namun masih ada ruas sungai belum tertangani.

”Harapan saya normalisasi Marmoyo dilanjutkan sampai tuntas. Setelah musim hujan, petani bisa tanam dengan tenang,” ucapnya.

Selain pengerukan sungai, Lasiman meminta perhatian terhadap petani yang kehilangan benih dan modal tanam.

Ia menyebut banyak petani tidak mampu membeli benih baru setelah gagal panen.

”Kalau kondisi begini, petani kasihan. Perlu bantuan benih. Perlu solusi pola tanam supaya panen bisa tercapai,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Kepala Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, Supriadji. Ia menyebut wilayahnya menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

Genangan bertahan lama karena desa berada di area cekungan.

”Kalau hujan deras dari arah barat (Tembelang – Megaluh), air meluap ke sini. Sudah langganan tiap tahun,” kata Supriadji.

Ia menyebut padi milik petani rawan busuk akibat terendam air. Ia berharap pemerintah menyiapkan bantuan benih bagi petani terdampak.

”Kalau banjir sulit dihindari, jadi benih padi mati harapan kami diganti supaya petani bisa tanam lagi,” ujarnya.

Saat ini, ia meminta data kerusakan sawah kepada kelompok tani.

”Teman teman Poktan saya minta di data dulu. Intinya petani berharap normalisasi sungai Afvoer Watudakon dilakukan agar bencana serupa tidak kembali terulang pada musim tanam berikutnya,’’ pungkasnya. (ang/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#solusi #kali marmoyo #Gedongombo #sawah #Carangrejo #banjir #watudakon #langganan banjir #Kesamben #tanaman mati #petani jombang #disperta jombang #Ploso #Petani