Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Pelajaran dari Salat, Bekal Hidup Mukmin Sehari-hari

Rojiful Mamduh • Senin, 19 Januari 2026 | 07:24 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH Achmad Cholili Alhafid, menjelaskan pentingnya salat.

’’Ada banyak pelajaran dalam salat,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (16/1).

Pertama, salat sebagai mikrajul mukminin.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam diangkat menghadap Allah dalam Isra’ Mikraj.

Seorang mukmin mengalami mikraj rohani setiap kali menunaikan salat dengan khusyuk.

Rasulullah bersabda: Salat adalah mikrajnya orang-orang beriman.

Sahabat Abdullah bin Mas‘ud radiyallahu ‘anhu berkata: Siapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah ia salat.

Kedua, salat sebagai penghubung antara hamba dan Tuhan.

Dalam salat, seorang hamba berdiri menghadap Allah, membaca firman-Nya, memuji-Nya, dan bermunajat langsung tanpa perantara.

Allah berfirman dalam hadis qudsi: Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku. Dan bagi hambaKu apa yang dia minta.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: Hakikat salat adalah menghadirkan hati di hadapan Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya.

Baca Juga: Binrohtal: Sedekah Tak Pernah Rugi, Ini Lima Keutamaannya

Para wali Allah mengajarkan, siapa yang kehilangan rasa dekat dengan Allah dalam salat, maka ia perlu memperbaiki hatinya sebelum memperbaiki gerakannya.

Ketiga, takbir: merasa kecil di hadapan Yang Mahabesar.

Ketika seorang mukmin mengucapkan Allahu Akbar, ia harus menyadari bahwa dirinya kecil, lemah, dan hina. Sementara yang Mahabesar hanyalah Allah Ta’ala.

Takbir adalah pengakuan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dari Allah. Jabatan, harta, masalah, dan hawa nafsu harus dikesampingkan.

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Khusyuk itu ada di hati, dan kerendahan diri itu tampak pada anggota badan.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata: Jika engkau mengucap ‘Allahu Akbar’ sementara hatimu masih dipenuhi selain Allah, maka engkau perlu bertobat dari takbirmu.

Keempat, salat sebagai pelajaran persatuan.

Dalam salat berjamaah, imam bergerak dan makmum mengikutinya. Tidak boleh mendahului atau menyelisihi.

Ini mengajarkan ketaatan, persatuan, dan kesolidan demi meraih satu tujuan.

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.

Allah Ta’ala berfirman di QS Ash-Shaff 4. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka bangunan yang kokoh.

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Tidak ada Islam tanpa jamaah, dan tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan yang ditaati.

Salat berjamaah mendidik umat agar disiplin, taat pada pemimpin yang sah, dan bersatu demi tujuan bersama.

Kelima, salat sebagai jalan menuju rida Allah Ta’ala.

Rasulullah bersabda: Amal yang paling dicintai Allah adalah salat pada waktunya.

Imam Abu Hanifah rahimahullah suatu malam beliau berdiri salat semalaman dengan mengulang satu ayat: QS Al-Qamar 46.

Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Azab hari kiamat itu lebih dahsyat, lebih besar bencananya, jauh lebih pahit daripada azab di dunia.

Abu Hanifah menangis hingga subuh. Ketika ditanya, beliau berkata: ’’Aku takut berdiri di hadapan Allah tanpa membawa salat yang diterima.’’

Ini mengajarkan, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi perjumpaan yang penuh rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah Ta’ala. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #Mukmin #bekal #hidup #masjid #pelajaran #Binrohtal #Jombang #salat #isra mikraj