JombangBanget.id - Pengasuh PP Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Jombang H Agus Solahuddin, menjelaskan pentingnya salat.
’’Agar hidup kita selamat dan bahagia dunia akhirat maka laksanakanlah salat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (14/1).
Rasulullah Muhammad sallalalhu alaihi wa sallam bersabda; Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat yakni salat.
Apabila salatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan apabila salatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Mukminun 1–2. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.
Ayat ini menegaskan, keberuntungan dan kebahagiaan sejati bergantung pada kualitas salat, khususnya kekhusyukan di dalamnya.
Salat bukan sekadar gerakan fisik dan bacaan lisan, tetapi pertemuan hati seorang hamba dengan Rabb-nya. Para ulama menegaskan, kekhusyukan adalah ruh salat.
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: Salat tanpa khusyuk bagaikan jasad tanpa ruh.
Oleh karena itu, setiap muslim perlu berusaha meningkatkan kekhusyukan dalam salat. Di antaranya dengan tiga cara.
Pertama, melihat tempat sujud. Menundukkan pandangan ke tempat sujud membantu menjaga konsentrasi dan mencegah hati dari kelalaian.
Rasulullah ketika salat selalu menundukkan pandangan.
Aisyah radiyallahu ‘anha meriwayatkan: Rasulullah menundukkan pandangannya dalam salat.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Khusyuk itu tempatnya di hati, dan tandanya adalah menundukkan pandangan serta merendahkan diri.
Kedua, memahami makna bacaan salat.
Bacaan salat adalah doa, pujian, dan munajat kepada Allah Ta’ala. Tanpa memahami maknanya, hati sulit hadir secara penuh.
Allah Ta’ala berfirman di QS Thaha 14. Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.
Para wali Allah menekankan pentingnya tadabbur bacaan.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata: Jika engkau berdiri dalam salat, bayangkan engkau berdiri di hadapan Raja segala raja.
Ketiga, hati selalu mengingat Allah Ta’ala.
Khusyuk lahir dari hati yang selalu terhubung dengan Allah, bukan hanya ketika salat, tetapi juga di luar salat.
Allah Ta’ala berfirman di QS Ar-Ra’d 28. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Sahabat Abdullah bin Zubair radiyallahu ‘anhu suatu hari salat di Masjidil Haram.
Kemudian batu dari manjaniq jatuh di sekitarnya dan orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
Namun Abdullah bin Zubair tetap berdiri tenang dalam salatnya, seakan tidak mendengar dan melihat apa pun. Hatinya sepenuhnya hadir bersama Allah Ta’ala.
Ketika ditanya, beliau berkata: ’’Aku sedang bermunajat kepada Rabb-ku. Jika aku memalingkan hati dari-Nya, lalu kepada siapa lagi aku menghadap?’’. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz