JombangBanget.id - Sedikitnya 130 hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Jombang terdampak banjir akibat luapan Kali Marmoyo.
Meski kondisi banjir berangsur surut, potensi banjir susulan masih mengancam lantaran intesitas hujan masih tinggi.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin menjelaskan, pendataan sudah dilakukan pihaknya.
Banjir tersebar di tiga desa, dengan luasan terbesar berada di Desa Gedongombo yang mencapai sekitar 70 hingga 80 hektare.
Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, dan Desa Ploso yang wilayahnya berdampingan langsung dengan Desa Jatigedong.
”Di Kecamatan Ploso mulai surut, karena dua hari terakhir di wilayah atas tidak hujan. Dari hasil pendataan kami, total ada sekitar 130 hektare sawah yang terendam banjir,” ujar Syaifuddin.
Menurut Syaifuddin, genangan air mulai surut pada 12 dan 13 Desember. Meski hingga kini masih terdapat lahan yang tergenang.
”Sampai hari ini (kemarin) belum bisa kami pastikan berapa luas tanaman yang mati, karena sebagian sawah masih ada tergenang,” imbuhnya.
Data dampak banjir sudah dilaporkan ke Disperta Jombang dan ditindaklanjuti bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).
Mengingat sebagian lahan yang terdampak telah ditanami padi dan masuk dalam program asuransi pertanian.
”Pihak asuransi sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” tambahnya.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan. Syaifuddin menyebutkan, hujan kembali turun sehingga potensi banjir susulan masih terbuka.
”Wilayah ini memang langganan banjir pertanian. Mayoritas persoalannya karena luapan Kali Marmoyo,” ujarnya.
Di wilayah Jatigedong dan Ploso terdapat pertemuan aliran sungai menuju Kali Marmoyo.
Kondisi tanggul sungai yang sudah sejajar dengan lahan pertanian menyebabkan air mudah meluap ke sawah saat debit meningkat.
”Banyak tanggul yang rusak dan membutuhkan normalisasi. Namun saat ini belum bisa dilakukan karena kondisi air masih tinggi. Begitu penuh, air langsung luber ke sawah,” jelasnya.
Sementara itu, Kades Gedongombo Lasiman membenarkan, banjir di wilayahnya mulai berangsur surut.
”Sampai hari ini (kemarin) memang surut, tapi belum total. Masih ada sebagian sawah, terutama yang posisinya rendah, yang masih terendam,” kata Lasiman.
Terkait kondisi tanaman, Lasiman menyebutkan dampaknya bervariasi.
”Ada sebagian tanaman yang mati dan membutuhkan tanam ulang, tapi jumlahnya relatif kecil,” ujarnya.
Namun demikian, kekhawatiran petani masih tinggi mengingat musim hujan masih berlangsung.
”Petani khawatir, karena di sini tidak sekali saja banjir. Takutnya setelah ini surut, akan banjir lagi,” tambahnya.
Pihaknya berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir luapan Kali Marmoyo.
Lasiman mencontohkan pendangkalan parah di Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu, yang sudah mendapat penanganan sementara.
”Harapannya, air bisa cepat surut meskipun banjir, sehingga genangan tidak berlangsung lama. Ke depan, paling tidak ada solusi permanen untuk Kali Marmoyo,” kata Lasiman. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz