JombangBanget.id – Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari (MINHA) di kompleks Ponpes Tebuireng, Cukir, tampil dengan wajah baru.
Koleksi pameran kini makin variatif, jumlahnya melonjak dari 106 menjadi 263 barang.
Penambahan koleksi disertai pembukaan ruang baru, termasuk ruang trio tokoh Nahdlatul Ulama (NU) serta sejumlah ruang tematik.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin, menyampaikan koleksi MINHA terus bertambah seiring proses kurasi dan penelusuran benda bersejarah.
”Koleksi saat ini ada 263 dan masih on going,” kata Indira.
Konsep penataan ruang pamer juga berubah.
Pengunjung kini bisa menelusuri perjalanan sejarah Islam di Indonesia secara runtut, mulai dari awal masuknya Islam ke Nusantara hingga dinamika umat Islam era modern.
Di lantai I, ruang khusus KH. Wahid Hasyim terintegrasi dengan ruang KH. Hasyim Asy’ari.
Kehadiran ruang ini melengkapi kisah tiga tokoh besar NU: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Selain itu, museum juga menampilkan lukisan 26 tokoh Pahlawan Nasional Muslim Indonesia.
”Lukisan tersebut menjadi pengingat kontribusi besar umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dakwah, pendidikan, hingga diplomasi kebangsaan,’’ tambahnya.
Baca Juga: Belajar di Museum, Begini Strategi Jombang Bangun Karakter Generasi Berkarakter
Di lantai II, pameran terbagi dalam empat zona tematik.
Zona Islam awal di Nusantara, jaringan ulama abad ke-17–19, masa pendudukan Jepang hingga proklamasi, serta dinamika Islam pasca-kemerdekaan hingga era reformasi.
Sejumlah koleksi unggulan turut dipamerkan, seperti Mushaf Pusaka Al-Qur’an pertama Republik Indonesia, sejarah ibadah haji dari masa kolonial, Konferensi Islam Asia-Afrika, berdirinya MUI, Mushaf Istiqlal, hingga penetapan Hari Santri.
Indira menambahkan, museum kembali membuka layanan kunjungan setelah revitalisasi.
Uji coba layanan digelar 13–31 Januari, sebelum operasional penuh mulai 1 Februari 2026.
”Selama masa ini, pengunjung dapat masuk tanpa dipungut biaya,’’ papar dia.
Ia berharap wajah baru MINHA menarik minat generasi muda mempelajari sejarah Islam Indonesia.
”MINHA kini hadir lebih informatif, komunikatif, serta kontekstual. Harapannya museum ini menjadi rumah belajar sejarah peradaban Islam Indonesia,” pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz