JombangBanget.id - Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Jombang Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan anjuran bekerja dan membela harta.
’’Bekerja dan membela harta termasuk kewajiban,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (13/1).
Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: ’’Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seorang lelaki yang ingin merampas harta bendaku?’’
Nabi menjawab: ’’Jangan kamu berikan hartamu kepadanya!’’
Laki-laki itu bertanya lagi, ’’Lalu bagaimana jika dia hendak membunuhku?’’
Nabi menjawab: ’’Bunuhlah dia!’’
Laki-laki itu bertanya lagi, ’’Lalu bagaimana pendapatmu kalau dia berhasil membunuhku?’’
Nabi menjawab: ’’Maka kamu syahid’’.
Dia bertanya lagi; Bagaimana pendapatmu jika aku yang berhasil membunuhnya? Nabi menjawab: ’’Dia akan masuk ke dalam api neraka.’’
Di antara akhlak para salafus soleh, mendahulukan pekerjaan berupa keterampilan dan profesi yang dapat menjaga mereka dari meminta-minta kepada manusia, daripada seluruh amalan sunah dan kewajiban yang waktunya masih longgar.
Al-Hasan al-Bashri – pernah ditanya tentang seseorang yang membutuhkan penghasilan; apabila ia pergi salat berjamaah, maka pada hari itu ia harus meminta-minta kepada orang lain.
Baca Juga: Binrohtal: Bulan Rajab Penuh Keutamaan, Puasa Sehari Setara Ibadah Ratusan Tahun
Beliau menjawab: ’’Hendaklah ia bekerja dan salat sendirian.’’
Rasulullah bersabda; Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengajarkan kepada Adam alaihissalam seribu macam keterampilan, dan berfirman: ’’Katakanlah kepada anak keturunanmu agar mereka mempelajari keterampilan agar mereka makan dari pekerjaanya, tidak dari agamanya.’’
Nabi juga bersabda: ’’Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan ke dalam hatiku bahwa seorang jiwa tidak akan mati sampai dia telah menerima seluruh rezekinya, meskipun rezeki itu terlambat datangnya.
Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki.
Dan janganlah kamu tergoda oleh lambatnya rezeki untuk mencarinya dengan cara maksiat kepada Allah.
Karena Allah tidak dapat dicapai dengan cara maksiat kepada-Nya.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: ’’Janganlah salah seorang di antara kamu duduk di masjid dan meninggalkan mencari rezeki, sambil berkata: ’’Ya Allah, berilah aku rezeki.’’
Karena itu bertentangan dengan sunah. Kamu semua telah mengetahui bahwa langit tidak menurunkan emas dan perak.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang duduk di rumahnya atau di masjid, dan berkata: ’’Aku tidak akan melakukan apa-apa sampai Allah memberiku rezeki.’’
Imam Ahmad menjawab: Orang ini tidak tahu ilmu. Tidakkah dia mendengar sabda Nabi: Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan pedangku.
Para sahabat Nabi melakukan perdagangan di darat dan di laut, dan kita harus mengikuti mereka.
Nabi Isa alaihissalam pernah melewati seorang laki-laki yang sedang duduk, dan bertanya: ’’Apa yang kamu lakukan di sini?’’
Laki-laki itu menjawab: ’’Aku beribadah, wahai Ruhullah.’’ Nabi Isa bertanya: ’’Siapa yang menanggungmu?’’ Laki-laki itu menjawab: ’’Saudaraku.’’
Nabi Isa berkata: ’’Saudaramu lebih baik daripada kamu.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz