JombangBanget.id - Ratusan hektare lahan pertanian di Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, Jombang terendam banjir akibat luapan Kali Marmoyo.
Banjir telah berlangsung selama tiga hari sejak hujan deras mengguyur pada Kamis (8/1) malam. Hingga Minggu (11/1) air belum juga surut.
Tingginya genangan menyebabkan tanaman padi tidak terlihat sama sekali. Kondisi ini membuat para petani khawatir tanaman padi membusuk dan gagal panen.
’’Sudah tiga hari ini terendam. Mulai Kamis (8/1) malam hujan deras, besoknya sudah banjir sampai sekarang belum surut,’’ kata Parmadi, 70, petani di Dusun Gedong, Desa Gedongombo. Sawahnya terendam sejak Jumat (9/1).
Sawah di wilayah tersebut sudah ditanami padi dengan usia tanaman rata-rata satu bulan.
Usia tanaman tidak seragam karena penanaman dilakukan tidak bersamaan dan kerap terganggu banjir.
’’Punya saya sudah satu bulan setelah tanam,’’ ucapnya.
Jika genangan tidak segera surut hingga lebih dari tujuh hari, tanaman dipastikan membusuk.
’’Ini sudah tanam kedua, karena awal-awal juga kebanjiran. Kalau sudah busuk ya dibiarkan bero, karena sudah tidak ada bibitnya,’’ ungkapnya sembari menyebut lahan miliknya seluas satu hektare.
Sementara itu, Kades Gedongombo, Lasiman, membenarkan kondisi tersebut.
’’Hingga kini luapan Kali Marmoyo masih menggenangi area persawahan,’’ ucapnya.
Baca Juga: Banjir Medali, Karateka Jombang Tak Tertandingi di KONI Jatim Cup 2025
Tercatat, terdapat lima dusun terdampak banjir. Yakni Dusun Balong, Gedong, Kalianyar, Sukoanyar, dan Kalimati.
’’Kurang lebih 100 hektare sawah terendam. Semuanya karena luapan Kali Marmoyo dan seluruhnya sudah ditanami padi dengan usia rata-rata satu bulan,’’ terangnya.
Sebagian petani bahkan sudah melakukan penanaman hingga dua kali akibat banjir yang berulang.
’’Ini sudah langganan. Setiap musim hujan selalu kebanjiran,’’ katanya.
Dia berharap ada penanganan serius berupa normalisasi Kali Marmoyo secara menyeluruh.
”Harapan kami ada normalisasi sungai, agar genangan cepat surut saat hujan. Karena dampaknya bukan hanya ke lahan pertanian, tapi juga ke permukiman,’’ urainya. (fid/jif)
Editor : Ainul Hafidz