Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: The Elephant

Ainul Hafidz • Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:21 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

DI ALQURAN surat berjudul al-Fil, gajah, hewan besar.

Mengimbangi surah dengan nama binatang terkecil, semut, al-Naml.

Itu untuk binatang darat dengan hikmah, agar manusia sadar betapa rahmat Tuhan menganugerahi manusia dengan aneka binatang, dari yang terbesar hingga yang terkecil.

Masing-masing punya manfaat sendiri-sendiri. Sedangkan binatang laut, hanya dilambangkan dengan kata  al-Hut, untuk ikan besar dan ikan lauk-pauk.

Surah al-Fil punya historis sendiri yang mengerikan sekaligus tidak masuk akal.

Mana ada pasukan bersenjata lengkap tiba-tiba ajur-mumur oleh serangan manuk Emprit.

Burung-burung langit itu nawur beramai-ramai, membombandir pakai kerikil neraka yang daya hancurnya lebih mengerikan dibanding bom nuklir yang diledakkan di Nagasaki dan Hirosima Jepang oleh tentara sekutu.

Gegara raja Abrahah Yaman yang sangat ambiius, iri dan dengki.

Dia tersinggung marah ketika dunia cenderung datang ke Rumah Allah, Kakbah, beribadah dan berniaga ramai sekali dan berlangsung sepanjang waktu.

Abrahah membuat duplikat Kakbah yang terbuat dari emas murni dan menghabiskan biaya super banyak.

Pikirnya, kakbah dari emas tentu lebih elite dan prestesius dibanding dengan yang terbuat dari batu, ireng-ireng yang tak sedap dipandang.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Zalzalah (7)

Dan..ternyata usahanya gak payu.. blass. Bahkan dunia mencibirnya sebagai orang tolol.

Abrahah mengerahkan pasukan tempur paling elit untuk datang ke Makkah al-Mukarramah demi menghancurkan Kakbah.

Pasukan itu naik gajah pilihan dan terlatih dengan senjata lengkap yang menurut hitungan pasti sukses dan Kakbah pasti hancur lebur.

Satu serudugan Gajah saja bisa merobohkan, apalagi banyak.

Dan Makkah pasti pasrah. Dialah Abdul Muttalib, kakek Rasulullah Muhammad sallallallahu alaihi wa sallam dilapori soal kedatangan pasukan Abrahah, tapi ekspresi wajahnya biasa saja dan tak menunjukkan keterkejutan sama sekali.

Sebelum penyerangan, Abrahah merampas harta wong kampung sekenanya untuk kebutuhan logistik, termasuk unta Abdul Muttalib.

Kemudian sang kakek mendatangi Abrahah bukan untuk negosiasi dan berdamai, melainkan meminta agar unta-untanya dikembalikan.

Masyarakat ngamuk dan melabrak Abdul Muttalib, sembari memaki: ’’Yok mbah, kamu kan tokoh negeri ini, tetua kami.

Kok bisa-bisanya saat krisis begini tidak ngurusi Kakbah yang jelas-jelas mau dihancurkan, Eh …malah ngurusi unta sendiri.

Kamu benar-benar orang tua yang gak tahu diri and kedonyan.. dan seterusnya.’’

Sembari tersenyum, Sang Kakek mengangkat jari telunjuknya ke arah langit.

Itu isyarah, soal Kakbah, Baitullah, Rumah Allah sudah ada Pempilknya dan Dia pasti bisa menjaga dengan cara-Nya sendiri.

Sedangkan unta saya, ya saya yang harus menjaga sendiri. Lalu.. mereka diam terkesima.

Wow, sebuah ketawakkalan tingkat tinggi, setelah menyadari usaha lahiriah terbatas. Dan.. tiba-tiba datang burung-burung neraka menghancurkan.

Inilah sikap hamba yang tahu dan mau memanfaatkan kedigdayaan Tuhan.

Tak ada yang tak bisa bagi-Nya. Kita sering kehilangan kepasrahan kelas ini.

Itu artinya, sifat keangkuhan dan ke-AKU-an masih dominan dalam diri kita. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

 

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #abdul muthalib #kakbah #tahun gajah #Jombang #Tafsir Aktual #gajah