Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Memuliakan Tamu Tak Pandang Agama, Begini Teladan Nabi Ibrahim dan Rasulullah

Rojiful Mamduh • Rabu, 7 Januari 2026 | 06:19 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan pentingnya memuliakan tamu.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (6/1).

Memuliakan maksudnya dengan mengeluarkan harta, seperti menyuguhkan makanan dan minuman sesuai kemampuan.

Inilah bentuk nyata dari keimanan yang hidup di dalam hati.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, memuliakan tamu sunah yang sangat dianjurkan, bahkan bisa menjadi wajib jika tamu tersebut sangat membutuhkan.

Di antara para nabi, Nabi Ibrahim alaihissalam dikenal sebagai nabi yang paling gemar menjamu tamu.

Sebagaimana diabadikan di QS Az-Zariyat 24. Sudahkah sampai kepadamu kisah tamu-tamu Ibrahim yang dimuliakan?

Dalam ayat selanjutnya diceritakan bahwa Nabi Ibrahim segera pergi menemui keluarganya dan membawa daging anak sapi yang dipanggang, tanpa banyak bertanya siapa tamunya.

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim bahkan sering berjalan mencari tamu agar bisa makan bersama, karena beliau tidak suka makan sendirian.

Suatu hari, datang seorang lelaki penyembah berhala yang telah kufur selama 70 tahun meminta makan kepada Nabi Ibrahim.

Mengetahui hal itu, Nabi Ibrahim menolaknya karena kekafirannya.

Baca Juga: Binrohtal: Semangat Beragama Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya

Namun Allah menegur Nabi Ibrahim melalui wahyu; Wahai Ibrahim, selama 70 tahun dia kufur kepada-Ku, Aku tetap memberinya rezeki.

Apakah engkau tidak bisa memberinya makan sekali saja?’’

Mendengar teguran itu, Nabi Ibrahim segera memanggil orang tersebut dan mengajaknya makan.

Sikap ini menunjukkan keluhuran akhlak seorang nabi dan menjadi dalil bahwa berbuat baik boleh dan dianjurkan kepada non-muslim, selama tidak dalam hal akidah.

Allah Ta’ala tidak melarang berbuat baik kepada non-muslim.

Sebagaimana disebutkan di  QS Al-Mumtahanah 8.

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama.

Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa Islam mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan kebaikan universal.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bahkan memberikan peringatan keras terhadap orang yang menyakiti non-muslim yang hidup damai (kafir zimmi): Barang siapa menyakiti seorang kafir dzimmi, maka sungguh dia telah menyakitiku.

Nabi juga bersabda, beliau akan menjadi lawan di hari kiamat bagi orang yang menzalimi non-muslim yang berada dalam perlindungan Islam.

Sayidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu pernah memberi santunan dari Baitul Mal kepada orang Yahudi tua yang miskin, seraya berkata: ’’Tidak adil jika kita mengambil jizyah (pajak)-nya saat muda lalu menelantarkannya saat tua.’’

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Akhlak Islam adalah memberi makan, berkata lembut, dan menahan diri dari menyakiti siapa pun.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menegaskan bahwa akhlak mulia kepada semua manusia adalah jalan tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #nabi ibrahim #masjid #rasulullah #memuliakan #tamu #Binrohtal #memuliakan tamu #Jombang