JombangBanget.id – Banjir masih menjadi ancaman utama di Kabupaten Jombang.
Sepanjang 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang mencatat ada 61 kejadian banjir.
Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi menjadi pemicu utama, diperparah aktivitas manusia dan perubahan tata guna lahan.
’’Banjir masih menjadi bencana paling dominan di Jombang, terutama di awal tahun akibat intensitas hujan yang tinggi,’’ kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, Jumat (2/1).
Banjir merupakan jenis bencana yang paling sering terjadi dibandingkan bencana lainnya.
Kejadian terbanyak tercatat pada awal tahun, saat curah hujan berada pada level tinggi.
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung cukup panjang menyebabkan debit air sungai meningkat dan memicu genangan di wilayah-wilayah rawan.
Selain faktor alam, aktivitas masyarakat juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir.
’’Perubahan tata guna lahan, berkurangnya daerah resapan, serta aktivitas manusia turut memperbesar potensi banjir,’’ jelasnya.
Untuk menekan dampak bencana, BPBD Jombang terus meningkatkan kesiapsiagaan.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor, pengecekan kesiapan personel dan peralatan, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Baca Juga: 146 Desa di Jombang Masuk Zona Rawan Bencana, Mulai Longsor hingga Banjir
Wiku mengimbau masyarakat agar tetap waspada, khususnya di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi.
’’Masyarakat kami minta mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat agar bisa ditangani dengan cepat,’’ tegasnya. (yan/jif)
Editor : Ainul Hafidz