Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Semangat Beragama Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya

Rojiful Mamduh • Sabtu, 3 Januari 2026 | 08:09 WIB

 

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Aqobah sekaligus Wakil Ketua MUI Jombang, KH Ahmad Junaidi Hidayat, menjelaskan pentingnya wasatiyah atau moderasi beragama.

’’Allah tidak menghendaki umat Islam terjatuh pada sikap berlebihan (ekstrem) maupun meremehkan agama. Allah memerintahkan umat Islam menjadi umat yang wasatiyah (moderat),’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (26/12).

Sebagaimana disebutkan di QS Al-Baqarah 143. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan (wasatiyah).

Ayat ini menunjukkan, sikap moderat ciri khas umat Islam. Wasatiyah berarti adil, seimbang, tidak berlebih-lebihan, dan tidak meremehkan ajaran agama.

’’Beragama tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus dengan ilmu,’’ tegasnya.

Islam sangat menekankan pentingnya ilmu dalam beragama. Semangat saja tidak cukup jika tidak dibimbing oleh ilmu yang benar.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya ilmu agama.

’’Semangat beragama tanpa ilmu itu berbahaya,’’ tegasnya.

Semangat beragama tanpa ilmu justru dapat menimbulkan penyimpangan, bahkan ekstremisme.

Seseorang merasa paling benar, mudah menyalahkan orang lain, dan menganggap ibadahnya paling baik, padahal tidak sesuai tuntunan.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: Banyak maksiat yang terjadi dalam bentuk ibadah karena dilakukan tanpa ilmu.

Inilah yang dikenal dengan istilah maksiat fil ibadah—perbuatan yang tampak ibadah, tetapi justru bernilai dosa karena tidak sesuai syariat.

Sebagaiman peringatan di QS Al-Kahfi 104. Yaitu orang-orang yang sia-sia amalnya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.

Ayat ini menggambarkan orang yang beramal dengan penuh semangat, tetapi tanpa ilmu, sehingga amalnya menjadi sia-sia.

Sayidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Ilmu lebih baik daripada amal. Ilmu menjaga amal, sedangkan amal perlu dijaga oleh ilmu.

Imam Malik rahimahullah juga menegaskan: Barang siapa beribadah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar daripada kebaikannya.

Para ulama dan wali Allah selalu menempuh jalan tawazun (keseimbangan): Antara ilmu dan amal, antara semangat dan kebijaksanaan.

Dikisahkan, ada seorang ahli ibadah di masa tabi’in yang rajin salat dan puasa, namun sering meremehkan orang lain.

Ketika hal itu disampaikan kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: ’’Sedikit amal dengan ilmu dan rendah hati lebih dicintai Allah daripada banyak amal tanpa ilmu dan sombong.’’

Kisah ini mengajarkan bahwa kualitas ibadah ditentukan oleh ilmu dan keikhlasan, bukan semata-mata kuantitas.

Menjadi umat wasatiyah berarti beragama dengan ilmu, adab, dan keseimbangan.

Semangat dalam beribadah adalah kebaikan, tetapi harus dibimbing oleh ilmu agar tidak tergelincir pada ekstremisme atau kesesatan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk umat yang moderat, berilmu, dan istiqamah. Serta mengaruniakan rahmat-Nya kepada kita semua. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #beragama #Moderasi Beragama #ilmu #masjid #Binrohtal #Jombang