JombangBanget.id – Kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Jombang pada Agustus 2025 menunjukkan tren membaik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran tercatat sebanyak sekitar 25.686 orang.
Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 28.738 orang.
”Betul, banyak tenaga kerja yang terserap sepanjang tahun 2025, sehingga menurunkan angka pengangguran di Jombang,” ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jombang, Isawan Nanang Risdiyanto.
Dari total angkatan kerja sebanyak 783.009 orang, tenaga kerja yang sudah bekerja mencapai 757.323 orang.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 3,23 persen, lebih rendah dibanding tahun 2024 yang masih berada pada level 3,75 persen.
Penurunan pengangguran tersebut tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan tenaga kerja, terutama di sektor industri pengolahan sepatu serta berbagai program pelatihan berbasis kompetensi.
”Di sektor formal ada investasi di industri pengolahan seperti sepatu. Bahkan ada satu perusahaan yang semula hanya menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja, kini hampir 8.000 orang. Di Jombang ada sekitar 12 industri sepatu. Alhamdulillah, minat investasi industri sepatu di Jombang tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, kebutuhan tenaga terampil di bidang jahit sepatu mendorong peningkatan pelatihan kerja di berbagai lembaga, termasuk Balai Latihan Kerja (BLK) dan LPK swasta.
Masyarakat kini semakin tertarik mengikuti pelatihan menjahit sepatu untuk mendapatkan sertifikat keahlian.
”Bahkan sudah ada daftar tunggu di LPK karena perusahaan membutuhkan tenaga berkompeten, apalagi yang orientasinya ekspor. Sertifikat itu jadi indikator standar yang dibutuhkan perusahaan,” ujarnya.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini sudah ada sekitar 50 titik di Jombang juga turut menekan angka pengangguran di Jombang.
”Jika rata-rata satu SPPG menyerap sekitar 47 relawan tenaga kerja. Dan di Jombang misalnya sudah ada 50 SPPG artinya sudah lebih dari 2.000 tenaga kerja terserap,” jelas Isawan.
Kebutuhan sertifikasi tenaga masak atau penjamah makanan untuk di SPPG kini juga tinggi.
”Kami telah koordinasi dengan koordinator SPPG Jombang terkait tenaga yang kompeten seperti apa, dan kami sesuaikan dengan pelatihan yang diberikan,” jelasnya.
Sementara itu, program di tingkat lokal seperti pengadaan seragam gratis juga turut menyerap tenaga kerja.
Banyak LPK yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan memberikan pelatihan menjahit baju untuk memenuhi pesanan.
”Beberapa LPK link and match dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Selama 2025, Dinas Tenaga Kerja melaksanakan berbagai program peningkatan keterampilan pencari kerja.
Di antaranya pelatihan berbasis kompetensi seperti jahit sepatu, jahit baju, kuliner, digital marketing, las, tata rias, hantaran, administrasi perkantoran, caregiver, juga otomotif.
Juga diadakan pelatihan usaha mandiri seperti merangkai bunga, kuliner, perbengkelan, pertukangan, membatik, serta keahlian servis AC, servis HP, budidaya lele, dan content creator.
Hingga pelatihan bagi calon pekerja migran indonesia yaitu housekeeper, kapal pesiar, dan bahasa Jepang.
”Juga kami adakan Job Fair dua tahap bulan Juni dan Oktober,” jelasnya.
Isawan mengakui bahwa pemerintah belum bisa sepenuhnya memenuhi seluruh kebutuhan tenaga kerja industri.
”Misalnya kebutuhan tenaga jahit sepatu 1.000 orang, yang bisa kami latih hanya sekitar 250 orang. Selebihnya masyarakat juga ikut pelatihan mandiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada 2026 terjadi efisiensi anggaran sehingga program pelatihan akan lebih difokuskan kepada keluarga miskin dan penyandang disabilitas.
Meski begitu, semangat pemberdayaan tetap dijaga.
”Pemerintah itu sifatnya memantik. Harapannya kapasitas fiskal ke depan meningkat, sehingga program pelatihan bisa terus diperkuat,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz