LA a’budu ma ta’budun.
Saya tidak akan pernah menyembah apa (Tuhan) yang kalian sembah.
Pernyataan konfrontasi antara diri sendiri sebagai muslim yang diungkap menggunakan jumlah fi’liyah, kata kerja.
Begitu pernyataan awal yang diunggah ayat nomor dua.
Pada ayat ketiga beda lagi: Wa La antum ‘Abidun Ma a’bud. Dan kalian bukanlah sebagai, tak usah menjadi penyembah terhadap Apa (Tuhan) yang aku sembah.
Orang-orang kafir diunggah dalam bentuk isim, jumlah ismiyah, mengarah ke personalitinya.
Yang kemudian disusul pada ayat ke empat sebagai muqabalah, perimbangan.
Wa la ana ‘abid ma ‘abadtum. Saya juga bukan penyembah apa (Tuhan) yang kalian sembah. Dirinya sebagai orang beriman diungkap dengan bentuk kalimah isim.
Lalu.. ayat ke lima mengulang persis ayat tiga; Wa la antum ‘abidun ma a‘bud, secara redaksi sama, tetapi tekanannya berbeda.
Ayat ketiga mengimbangi terma pada ayat keuda yang berbentuk jumlah fi’liyah (La a’budu).
Sedangkan ayat kelima mempertegas dengan tesis balik atas ayat nomor empat yang sama-sama menggunakan jumlah ismiyah.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Zalzalah (6)
Tulisan ini tidak membahas detail tafsirnya.
Sekedar menginformasikan begitu jelimetnya redaksi Alqur’an ketika membahasakan konfrontasi antara muslim dan kafir.
Tidak mengunggah kedalaman makna jumlah fi’liyah maupun ismiyah.
Apalagi membahas takrar ayat kelima mengulang ayat ke tiga dalam jarak pendek.
Ringkasnya, Tuhan sangat ’’Wanti-Wanti’’ dan serius menasehati orang muslim agar tidak: Pertama, kekancan dengan non muslim secara berlebihan.
Boleh berteman, tapi jangan terlalu akrab. Jangan sampai keimanan tergerus secara halus tanpa terasa.
Mereka itu sangat jahat dan licik sekali. Mereka tidak akan pernah rela ada orang yang berseberagan dengan keyakinan mereka.
Segala cara mereka tempuh. Itulah pesan al-Baqarah 120.
Kalau mayoritas dan kuat, mereka tak segan membantai kita dan sejarah banyak membuktikan itu. Kalau minoritas dan lemah, maka dengan segala cara.
Bahkan ada yang diutus mondok di pesantren, padahal kader misionaris.
Ingat doctor Christian Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang belajar keislaman di Arab lama dan alim. Tulisannya tentang islamologi banyak sekali.
Ada gadis cantik yang sengaja diprogram. Dia pura-pura Islam, salehah dan akhirnya dinikahi seorang tokoh muslim. Sudah punya anak dan rumah tangga bahagia.
Gereja memerintahkan segera murtad dan meninggalkan suaminya.
Suami yang wis kadung sueneng, bahagia berumah tangga menjadi bimbang: Masuk agama istri dan keluarga utuh atau cerai demi keimanan.
Untung ada teman yang bijak dan mensehati secara bagus. Ustad itu menerima dan selamat dari tipuan gereja, meski harus menderita dan mengawali hidup baru lagi.
Bersambung in sya Allah. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz