JombangBanget.id – Proyek jaringan irigasi Pariterong kembali jadi sorotan. Meski konstruksi saluran sepanjang 17 kilometer itu telah rampung sejak akhir 2024, hingga kini belum ada kepastian kapan akan difungsikan penuh.
Kondisi ini dikeluhkan kalangan warga dan petani yang sudah lama menunggu pasokan air dari saluran tersebut.
Pantauan Jawa Pos Radar Jombang di Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Senin (23/12), terlihat saluran irigasi masih kosong tanpa aliran air.
Sepanjang jalur irigasi tidak tampak pemanfaatan. Situasi ini memunculkan kesan bangunan mangkrak, meski secara fisik proyek sudah selesai.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni menegaskan, pengoperasian penuh jaringan Pariterong bukan kewenangan Pemkab Jombang.
”Secara kewenangan, Pariterong itu milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Jadi kami menunggu arahan dari pusat,” ujarnya.
Hingga kini, pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi terkait jadwal operasional.
Meski begitu, Sultoni menyebut sebagian saluran sudah dimanfaatkan secara parsial.
”Bukan uji coba, tapi memang sudah dipakai untuk membantu kebutuhan debit PG Jombang Baru. Namun sifatnya masih situasional,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, dua kali uji alir yang dilakukan akhir 2024 tidak berjalan maksimal karena sedimentasi di bagian hulu.
”Bangunan lama penuh sedimen, sehingga air dari Induk Mrican tertahan dan tidak bisa masuk ke saluran Pariterong,” ungkap Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni.
Kondisi ini membuat petani semakin resah. Yusuf Fahmi, warga Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, mengaku heran proyek yang dimulai sejak tahun 2000 itu belum juga berfungsi.
”Kalau saluran ini bisa difungsikan, petani bisa tanam padi dua kali setahun. Tapi sampai sekarang airnya tak kunjung ngalir,” keluhnya, (3/10).
Hal senada disampaikan Su’ud, petani asal Desa Jarakkulon, yang berharap saluran segera dioperasikan.
Selain menelan anggaran besar, petani sudah lama menanti pasokan air dari jaringan irigasi tersebut.
Hasil penelusuran Jawa Pos Radar Jombang menunjukkan, jalur irigasi dari Kecamatan Perak hingga Mojowarno masih belum beroperasi. Beberapa titik bahkan mulai dipenuhi sedimen tanah dan semak belukar.
Padahal, proyek ini dirancang untuk mengairi lebih dari 3.000 hektare sawah teknis di 10 desa pada tiga kecamatan.
Untuk diketahui, proyek irigasi Pariterong mulai dikerjakan secara bertahap sejak puluhan tahun lalu.
Pemerintah pusat pada 2023 lalu melanjutkan proyek Pariterong hingga rampung.
Pada tahap ini, jaringan irigasi yang digarap sepanjang 9 kilometer melewati 10 desa di tiga kecamatan.
Meliputi Desa Pandanwangi, Balongbesuk, Ngudirejo dan Desa Kedawong di Kecamatan Diwek, serta dan Desa Mayangan, Sawiji, Alangalangcaruban, dan Desa Jogoroto, Kecamatan Jogoroto. Untuk hilirnya berada di Desa Sidokerto, Kecamatan Mojowarno.
Pekerjaan terbagi menjadi dua segmen. Masing-masing segmen dikerjakan pelaksana berbeda. Yakni, PT Waskita Karya dan PT Wijaya Karya (Wika).
Setelah pengerjaan selesai sekitar Desember 2024 lalu, sesuai jadwal akan dilakukan pengecekan bersama tim konsultan dan pengguna jasa sebelum dilakukan serah terima.
Setelah dilakukan serah terima pekerjaan, pelaksana masih punya tanggung jawab pemeliharaan selama setahun. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz