JombangBanget.id - Ustad Addin Mustaqim Alhafiz dari PP Al Amanah, Ngledok, Desa Mojokrapak, Tembelang, Jombang, menjelaskan pentingnya menanam pohon.
’’Menanam pohon termasuk sedekah jariyah,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (17/12).
Karena manfaatnya terus dirasakan oleh manusia dan makhluk lain.
Sehingga pahalanya tetap mengalir meskipun penanamnya telah wafat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ada tujuh amalan yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba meskipun ia telah berada di dalam kubur.
Pertama, orang yang mengajarkan ilmu. Kedua, orang yang mengalirkan sungai. Ketiga, orang yang menggali sumur.
Keempat, orang yang menanam pohon. Kelima, orang yang membangun masjid. Keenam, orang yang mewariskan mushaf Alquran.
Ketujuh, orang yang meninggalkan anak saleh yang memohonkan ampun untuknya setelah ia meninggal dunia.
’’Menanam pohon sangat dianjurkan bahkan hingga akhir zaman,’’ terangnya.
Rasulullah memerintahkan umatnya untuk tetap berbuat kebaikan, bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun, yaitu ketika hari kiamat akan terjadi.
Rasulullah bersabda: Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas (bibit tanaman), maka jika ia mampu sebelum terjadinya hari kiamat untuk menanamnya, hendaklah ia menanamnya.
Baca Juga: Binrohtal: Ini Tanda Diterimanya Amal Menurut Ulama
Ini menunjukkan, Islam mendorong optimisme, amal nyata, dan kepedulian terhadap kehidupan. Meskipun dunia akan segera berakhir.
Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhuberkata: Aku lebih menyukai seseorang yang menanam pohon daripada yang hanya mengeluh tentang keadaan.
Sahabat Abu Darda’ radiyallahu ‘anhu pernah menanam pohon saat usia beliau telah lanjut.
Ketika ditanya, beliau menjawab: ’’Mengapa tidak? Orang lain akan memetik buahnya dan aku mendapat pahalanya.’’
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Dunia adalah ladang akhirat. Apa yang engkau tanam hari ini, itulah yang akan engkau panen esok.
Menanam pohon adalah simbol nyata dari keyakinan bahwa amal kecil hari ini bisa menjadi pahala besar di akhirat.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: Setiap amal yang manfaatnya berlanjut setelah kematian, maka pahalanya terus mengalir, termasuk menanam tanaman yang dimanfaatkan makhluk.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menyebutkan; Hadis tentang menanam pohon saat kiamat adalah dalil keutamaan amal meskipun hasilnya tidak dinikmati pelakunya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah sangat menjaga lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Ketika muridnya bertanya, beliau berkata: ’’Siapa yang menjaga makhluk Allah, maka Allah akan menjaganya.’’
Bagi para wali, menanam pohon bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi ibadah hati dan bukti kasih sayang kepada ciptaan Allah Ta’ala.
Seorang lelaki tua menanam pohon zaitun. Orang-orang mengejeknya, ’’Engkau sudah tua, kapan engkau akan memakan buahnya?’’
Ia menjawab: ’’Orang sebelumku menanam, aku memakan. Kini aku menanam, agar orang setelahku memakan.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz