Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Guru Indah yang Mengindahkan

Anggi Fridianto • Senin, 15 Desember 2025 | 16:08 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

SAAT ini para guru tengah disibukkan oleh rutinitas yang hampir seragam: mengisi nilai rapor, merapikan administrasi, memastikan kolom-kolom e-raport terisi lengkap.

Di balik kesibukan yang tampak teknis itu, sesungguhnya tersimpan kegelisahan yang lebih mendasar.

Karena profesi guru di era internet menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Dunia berubah cepat, murid berubah lebih cepat, sementara guru kurang dibekali kesigapan yang memadai untuk merespons dinamika ini.

Internet telah menggeser banyak hal, termasuk cara murid memandang otoritas atau “sanad” keilmuan. Informasi kini berserakan di mana-mana.

Apa yang dulu harus dicari di buku atau ditanyakan kepada guru, kini bisa ditemukan dalam hitungan detik.

Jika guru hanya hadir sebagai penyampai materi, maka posisinya mudah tergantikan.

Namun jika guru hadir sebagai teladan kebaikan ( uswatun hasanah ), penjaga nilai, dan penyejuk jiwa, maka perannya justru menjadi semakin penting.

Ungkapan di atas saya sampaikan dalam pembukaan diklat manajerial satuan pendidikan seluruh pimpinan unit pendidikan di PP. Darul ‘Ulum yang berlangsung di BBGTK Jatim.

Saya melihat wajah sumringah seluruh peserta.

Karena kegiatan ini baru pertama kami selenggarakan dengan “memondokkan” mereka 5 hari pada lembaga di pinggiran kota Batu itu, agar mereka bisa lebih fokus pada materi diklat yang disajikan para widyaiswara yang berkompeten.

Baca Juga: Gus Zu'em: Melihat New York dari Ngusikan

Lebih lanjut saya sampaikan bahwa guru harus menjadi idola murid, bukan sekadar figur formal di depan kelas. Untuk itu, guru harus “indah dan mengindahkan”.

Indah dalam akhlak, bahasa, dan keteladanan. Mengindahkan dalam arti memuliakan murid sebagai manusia yang sedang tumbuh.

Guru yang indah akan sibuk dengan upaya memantaskan diri untuk tumbuhkan pesona belajar pada murid.

Sedang guru yang mengindahkan akan dengan sabar membersamai murid berproses menjadi indah dan memberikan perhatian serius pada seluruh ungkapannya.

Dalam konteks pendidikan apa pun, baik sekolah, madrasah maupun pesantren, guru memikul peran yang sama mulianya.

Ia bukan sekadar pengajar akademik, melainkan pembentuk karakter dan penjaga nilai kemanusiaan.

Di hadapan murid, guru adalah contoh hidup tentang bagaimana ilmu seharusnya berjalan beriringan dengan adab.

Di situlah letak tanggung jawab moral yang seharusnya terpahat di hati para guru.

Maka dari itu, untuk menjawab tantangan zaman tersebut, guru harus memiliki empat karakter utama yang dapat dirangkum dalam akronim ASIC: Adaptive, Smart, Innovative, dan Competence.

Pertama, Adaptive. Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Adaptif bukan berarti mengikuti semua tren secara membabi buta, tetapi bijak dalam menyaringnya.

Teknologi digunakan sebagai alat bantu pendidikan yang mereka kuasai dengan baik.

Guru adaptif tahu kapan menggunakan media IT dan kapan mengajak murid kembali pada keheningan membaca, berpikir, dan merenung.

Kedua, Smart. Kecerdasan guru tidak semata-mata diukur dari luasnya pengetahuan, tetapi dari kemampuannya menemukan solusi.

Guru yang smart memahami bahwa murid bukan kertas kosong yang bisa ditulisi sesuka hati.

Para murid hadir dengan karakter, latar keluarga, dan persoalan masing-masing.

Maka, kecerdasan guru tampak saat ia mampu menjelaskan secara sederhana dan mudah dimengerti, topik yang sulit dipahami murid.

Ketiga, Innovative. Inovasi dalam pendidikan tidak selalu berarti metode yang rumit atau teknologi yang mahal.

Sering kali inovasi lahir dari cara menjelaskan yang lebih kontekstual, pendekatan yang lebih dialogis, media pembelajaran yang variatif atau keberanian memberi ruang bertanya dan berpikir kritis.

Guru inovatif terus bertanya, “apa yang bisa diperbaiki hari ini.?”

Keempat, Competence. Inilah fondasi dari seluruh peran guru. Penguasaan ilmu yang baik melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan menumbuhkan kewibawaan.

Murid mungkin lupa detail pelajaran, tetapi mereka tidak akan lupa pada guru yang mengajar dengan penjelasan yang mencerahkan dan penuh tanggung jawab.

Akhirnya, guru yang indah dan mengindahkan adalah guru yang kehadirannya menenangkan, ilmunya mencerahkan, dan sikapnya menumbuhkan harapan.

Sebab sejatinya, guru tidak sekadar mengajar dan menulis angka di rapor, melainkan sedang menanam nilai yang akan hidup jauh melampaui ruang dan waktu saat mengajar.

Semoga bapak-ibu guru tercinta, berlimpah rahmat dan berkah selalu. (*)

Editor : Anggi Fridianto
#Gus Zuem #PP Darul Ulum #PP Darul Ulum Rejoso #indah #Jombang #guru #Kolom Gus Zuem