JombangBanget.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jombang sejak Kamis (20/11) malam hingga Jumat kembali memicu banjir di sejumlah titik utara Brantas.
Sedikitnya 14 desa di empat kecamatan terendam air.
Ketinggian air bervariasi antara 20-60 sentimeter. Di Desa Jatigedong dan Gedongombo, Kecamatan Ploso banjir sudah memasuki hari ketiga.
Pantauan di lokasi, Jumat (21/11) siang, permukiman warga di Desa Jatigedong dan Gedongombo masih digenangi banjir.
Ketinggian air bervariasi antara 20-40 sentimeter. Salah satu yang terparah di Dusun Gotan, Desa Jatigedong.
”Ini sudah memasuki hari ketiga banjirnya. Rabu itu tinggi, Kamis sudah mulai surut, Jumat pagi tadi naik lagi dan lebih tinggi,” terang Dodik, 45, warga Dusun Gotan.
Sejumlah dusun yang terdampak antara lain Dusun Jatirowo, Lengkong, Gotan, dan Dusun Gedang.
Ketinggian muka air mencapai skeitar 60 cm, hingga masuk ke rumah-rumah warga. Beruntung Jumat (21/11) siang air berangsur surut.
”Yang terparah di Dusun Gotan sama Gedang, airnya sampai 60 sentimeter. Jadi masuk ke rumah-rumah warga,” tuturnya.
Selain menggenangi rumah-rumah warga, sejumlah bangunan sekolah hingga masjid juga terdampak banjir.
”Ada tiga sekolah di sini yang terpaksa diliburkan, masjid juga terendam, ini mau salat Jumat juga sepertinya tidak bisa,” imbuhnya.
Baca Juga: Momen Pernikahan Warga Jombang di Tengah Banjir: Pengantin Digendong, Tamu Rela Basah-basahan
Kecamatan Kudu juga melaporkan genangan di Desa Sidokaton dan Bakalanrayung dengan ketinggian sekitar 30 cm.
Banjir juga menerjang permukiman warga di Desa Pandanblole, Kecamatan Ploso.
Jumat dini hari, air mulai menggenangi permukiman. Banjir berasal dari luapan Sungai Marmoyo.
Kondisi salah satu titik tanggul jebol yang belum tertangani dan tumpukan sampah di jembatan semakin memperparah banjir. Beruntungnya banjir berangsur surut.
”Siang ini tadi sudah mulai surut airnya,” terang Kades Pandanblole, Suwaji.
Desa lain di Ploso yang terdampak luberan Kali Marmoyo, yakni Desa Kedungdowo dan Pagertanjung.
”Kalau di desa kami, yang kena satu dusun saja, yaitu Dusun Pagerongkal,” terang Kades Pagertanjung, Bambang Pitono.
Di Kecamatan Kabuh, tiga desa terdampak banjir masing-masing Desa Munungkerep, Pengampon, dan Kedungjati.
Di Desa Munungkerep, banjir datang sekitar pukul 17.50. banjir disebabkan sungai di wilayah desa setempat meluap. Beruntungnya, banjir tidak bertahan lama.
Sekitar pukul 20.00, banjir sudah surut seluruhnya.
”Cukup tinggi dan deras banjirnya, tapi sekitar pukul 20.00 sudah surut seluruhnya,” terang Heru, warga Dusun Slumbung.
Banjir juga menerjang permukiman warga di Dusun Suco dan Dusun Kambingan, Desa Pengampon.
Lebih dari 50 rumah terkena imbas air bah dari kawasan hutan. Beruntungnya, sekitar pukul 20.00, banjir sudah surut.
”Itu kiriman air bah dari kawasan hutan. Setiap kali hujan deras hampir pasti di sini diterjang banjir,” tutur Suwandi, Sekretaris Desa Pengampon.
Banjir lebih besar terjadi di Desa Kedungjati, khususnya di Dusun Jatisari dan Jatidrenges.
Air dari luapan Kali Kabuh menggenangi permukiman warga. Parkiran sebuah pabrik juga ikut tergenang.
”Sekitar pukul 22.30 itu air mulai naik dan makin tinggi,” terang Soni Harsono, warga Jatisari.
Selain menggenangi permukiman warga, banjir juga sempat menggenangi jalan provinsi Ploso-Babat.
”Sekitar pukul 00.00 banjir sempat menggenangi jalan provinsi Ploso–Babat, sampai ketinggian lebih dari 30 cm. Sekitar pukul jam 01.00 baru surut,” tambahnya.
Banjir juga menggenangi sejumlah desa di Kecamatan Plandaan. Antara lain Desa Klitih, Tondowulan, dan Desa Darurejo. Ketinggian air bervariasi antara 20-50 cm.
Banjir berasal dari luapan sungai di wilayah setempat. Beruntung menjelang Jumat (21/11) dini hari, banjir sudah surut.
”Air sempat menggenang, namun Jumat dini hari sudah habis, karena memang ada sumbatan di sungai,” terang Teguh, warga Tondowulan.
Saat dikonfirmasi, Kalaksa BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Dias Quintas melalui Supervisor Pusdalops Stevy Maria membenarkan banjir menggenangi sejumlah desa di wilayah utara Brantas.
BPBD menyebut hujan deras sejak Rabu sore menjadi pemicu utama banjir. Pemantauan dan pemetaan kebutuhan darurat terus dilakukan.
”Untuk permintaan dapur umum belum ada. Namun, kemarin logistik makanan siap saji sudah kita kirim ke Desa Jatigedong, sebagai antisipasi,” pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz