Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Zalzalah (5)

Ainul Hafidz • Sabtu, 22 November 2025 | 14:28 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

PADA ayat sebelumnya ditutur betapa semua manusia dikeluarkan dari kubur dengan bermacam-macam rupa, ’’asytata’’.

Rupa dan penampilan mereka mencerminkan amal perbuatan masing-masing kala hidup di dunia dulu.

Ada yang berpenampilan ceria, ganteng, cantik, bersih dan bercahaya.

Itulah para nabi (al-nabiyyin), orang-orang jujur (al-shiddiqin), mereka yang mati syahid (al-syuhada’) dan orang-orang salih (al-salihin).

Ada yang penampilannya kotor dan menjijikkan. Tak sedikit yang berkepala menyerupai babi, anjing, monyet, buaya dan hewan buruk rupa lainnya.

Mereka adalah para pendurhaka, pendusta, koruptor, penfitnah, termasuk pemimpin yang tidak amanah.

’’Yawmaidz yashdur al-nas asytata’’, manusia bangkit dari kubur dengan bodi utuhnya, tanpa ada selembar kain yang menutupi.

Podo konthal-kanthul dan tidak malu. Hal itu karena setiap anggota tubuh akan diadili di hadapan Tuhan.

Masing-masing mengaku: Pernah melakukan apa, pernah dipakai apa ketika di dunia dulu. Pengakuan yang sangat detail, berdata nan valid.

Andai tangan mengaku ngambil uang rakyat dan lisan baru akan berkelit, maka segera disumpel rapat-rapat.

Justru kaki yang angkat bicara membenarkan pengakuan tangan bajingan tersebut. Manusianya.., langsung meneng kelekep.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Zalzalah (2)

Ketika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam berkisah tentang kondisi telanjang bulat, baik pria maupun wanita, seorang sahabat wanita bertanya dengan malu dan menutup wajah.

’’Itu gimana Ya Rasulullah.. tentu kami malu banget..?’’

Rasulullah memberi illustrasi keadaan darurat yang membuat jantung deg-deg plas.

Jika ada kebakaran hebat atau gempa dahsyat, apakah di antara kalian ada yang memikirkan berpakaian rapi lebih dulu..?

Tentu tidak. Pokoknya lari sejadi-jadinya dan ingin selamat. Tidak terlintas, apakah kemaluan terbuka atau tidak.

Apalagi melihat kemaluan orang lain, sungguh di luar pikiran. Itu baru kepanikan dunia. Kepanikan akhirat..?

Seorang ibu menggendong bantal guling dengan erat dan lari keluar rumah sejadi-jadinya, saat ada gempa melanda kampungannya.

Kentongan desa ditabuh bertalu-talu menambah kepanikan. Baru sadar setelah situasi aman, bahwa yang digendong adalah bantal guling yang dikira bayinya.

Dalam kepanikan tersebut, manusia hanya berpikir keselamatan diri sendiri dan tidak berpikir nasib orang lain, termasuk anak, istri, bahkan orang tua.

Masing-masing berdebar memikirkan nasib sendiri: Apakah ke neraka atau ke surga.

Pesan ayat kaji ini adalah janganlah kita mengandalkan orang lain, termasuk kepada anak.

Terukur saja dalam memberi servis duniawi. Secukupnya saja ninggali warisan.

Harta harus kita pakai sendiri lebih dulu sebagai bekal di akhirat nanti dengan memperbanyak sedekah dan amal sosial.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan (9-Habis)

Ya, karena belum tentu anak yang kita sayang, yang kita tinggali warisan banyak itu genah karo wong tuwo setelah kita mati.

Yo nik genah, alhamdu lillah. Lha nik gak..? (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #Siksa kubur #Zalzalah #Jombang #Tafsir Aktual #Bangkit dari kubur #kiamat