JombangBanget.id - Salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Darul Umum Rejoso, Jombang, KH M Zaimuddin As’ad (Gus Zuem), menjelaskan pentingnya mewaspadai maksiat dengan HP.
’’Sekarang ini maksiat semakin mudah. Dimanapun orang bisa maksiat dengan HP,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (7/11).
Di antaranya dengan menyebarkan berita bohong, fitnah, adu domba dan caci maki.
Maka kita perlu saring sebelum sharing. Sebagaimana diperintahan dalam QS Alhujurat 6.
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (tabayyun) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
’’Saat ini era post-truth (pasca kebenaran),’’ ungkapnya.
Emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh daripada fakta dan data.
Kebenaran menjadi relatif, tergantung siapa yang menyampaikan dan bagaimana narasinya dibuat.
Di media sosial, misalnya, foto santri mencium tangan kiai — bagi kalangan pesantren adalah bentuk tawaduk dan adab.
Namun di mata orang yang tidak paham, bisa disalahartikan sebagai feodalisme.
Inilah jebakan post-truth — kebenaran yang dipelintir oleh persepsi.
Baca Juga: Binrohtal: Waspadalah! Empat Hal Ini Bisa Jadi Perampas
Zaman ini, siapa pun bisa menjadi sasaran caci maki: Tokoh agama, ulama, penegak hukum, aparat, bahkan guru dan orang tua.
Semua mudah dihujat tanpa tabayyun. Tujuannya bukan hanya mencoreng nama seseorang, tapi lebih jauh — merusak persatuan dan kerukunan umat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: ’’Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyebarkan setiap berita yang didengarnya.’’
Fitnah yang disebarkan di dunia maya ibarat api di padang ilalang — cepat menyala, sulit dipadamkan, dan meninggalkan luka yang lama.
Para ulama sangat berhati-hati dalam menyampaikan kabar.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: Sesungguhnya orang mukmin menimbang perkataannya sebelum diucapkan. Jika baik, ia katakan; jika buruk, ia tahan.
Seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hanbal, pernah difitnah oleh penguasa karena tidak mengikuti pendapat resmi negara.
Beliau tetap bersabar dan tidak membalas dengan kebencian. Setelah waktu berlalu, fitnah itu sirna, sementara kehormatan beliau tetap abadi.
Pelajaran dari kisah ini: Kebenaran tidak perlu dibela dengan kebohongan atau emosi. Cukup dengan kesabaran dan keteguhan.
Di era post-truth ini, tabayyun adalah benteng keimanan. Jangan mudah percaya, jangan cepat menyebar. Ukurlah setiap berita dengan akal dan adab.
Jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan sarang dosa. Rasulullah bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.
Maka kita berhati-hati dalam setiap klik. Karena di balik layar ponsel, Allah tetap Maha Melihat.
Setiap ucapan akan dicatat oleh malaikat yang mengawasi (QS Qaf 18). (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz