DOSA manusia kepada Tuhan semuanya bisa diampuni.
Meskipun dosa syirik, tetap berpeluang diampuni, jika ditobati sebelum mati.
Kalau belum tobat kok kedisikan mati, maka dosa musyrik tidak bisa diampuni.
Selain dosa syirik sangat berpeluang diampuni, meskipun ketika hidup dulu belum meminta ampun, belum bertobat. Dari mana..?
Bisa karena didoakan, dimintakan ampunan oleh anak-anaknya, oleh santrinya, oleh teman-teman sesama muslim, olah masyarakatnya dalam tahlilan dan kirim doa lainnya. Sekali lagi, kalau dosa musyrik, tidak.
Terhadap orang yang nakalan soal duit, meskipun itu utang yang prosedurnya halal, karena belum terbayar dan kedahuluan mati, ternyata Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tidak berkenan mensalati.
Ceritanya, Rasulullah duduk santai bersama para sahahabat, tiba-tiba ada janazah lewat dan mereka meminta Rasulullah mensalati.
Nabi lebih dahulu bertanya: ’’a’alaih dain..?’’ Apa si mayit punya utang..?. Dijawab ’’tidak’’. Dan Nabi berkenan mensalati.
Selang beberapa saat datang lagi jenazah dan memohon agar Nabi mensalati.
Tanya lagi ’’a’alaih dain..?’’ Mereka menjawab ’’Tidak’’ dan Nabi mensalati.
Selang beberapa waktu datang jenazah ketiga dan Rasulullah bertanya yang sama: ’’a’alaih dain..?’’
Baca Juga: Tafsir Aktual: Zalzalah
Yang dijawab: ’’punya..’’ Nabi bersabda: ’’Sollu sahibakum..’’ Solatono dewe koncomu, aku emoh!
Melihat Rasulullah tidak berkenan mensalati, poro sahabat gelisah dan berbisik, lalu seseorang berkata: ’’Alaiy dainuh..’’ Saya yang menanggung utangnya.
Baru Nabi berkenan mensalati. Selesai salat, Nabi bersabda: ’’al an.., waqad baridat.’’ Sekarang, kulit si mayit dingin kembali.
Jadi, sebelum utang terbayar atau ada yang menanggung, kulit si mayit memanas, meloncot, sebagai siksaan awal atas penyerobotan hak Adami.
Makanya, jangan gampang-gampang utang. Punya uang, ya beli kontan. Belum punya, ya nyelengi dulu, bersabar.
Sebab beli kredit itu sama dengan utang. Belum lunas kok mati..? Wah.. perkoro.
Untuk itu, sungguh tidak bisa dibayangkan betapa sengsaranya seorang koruptor, seorang yang menggasak uang haram.
Baru di kuburan saja sudah klepek-klepek kepanasan dan meloncot sekujur tubuh.
Semakin besar yang dikorupsi, makin lama dibakar di neraka dan tentu saja berat sekali masuk surga.
Dari sisi klenik, hadis tentang tiga janazah yang datang berurutan di atas mengisyaratkan, bahwa di dalam satu desa atau perkampungan, biasanya orang mati itu rombongan.
Berjumlah tiga berurutan, entah selang berapa hari dan tidak jauh. Meskipun sering terjadi, tapi bukan kepastian.
Yang disegerakan siksaannya di dunia yang kedua adalah anak yang durhaka.
Menyakiti, melawan orang tuanya. Biasanya hidupnya agak sengsara, melarat, rezekinya kurang lancar.
Yang pasti adalah, naza’nya berat, sekaratnya lama, nyawa dicabut secara kasar atau disendat-sendat oleh malaikat.
Alqamah, seorang sahabat yang mendurhakai ibunya. Sekarat berat dan lama.
Nabi memerintahkan agar ibunya dipanggil dan sang ibu tidak mau.
Nabi mengancam: ’’Kalau ibunya tidak mau datang, maka anaknya akan dibakar.’’ Dan ibunya datang, memaafkan. Alqamah wafat dengan tenang. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz