JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Jombang, Dr H Agus Sholahuddin, menjelaskan pentingnya sabar saat menerima musibah.
’’Di balik setiap musibah, terdapat cinta Allah yang besar kepada hamba-Nya. Karena Allah ingin membersihkan dosa, mengangkat derajat, dan meneguhkan iman,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (6/11).
Allah Ta’ala berfirman di QS Albaqarah 155–156.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali,’’ tuturnya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian.
Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.
Barang siapa yang rida (dengan ujian itu), maka Allah rida kepadanya. Dan barang siapa yang murka, maka Allah murka kepadanya.
Umar bin Khaththab radiyallahu anhu berkata: Tidaklah aku ditimpa suatu musibah melainkan aku bersyukur kepada Allah atas empat perkara.
Pertama, karena musibah itu tidak menimpa agamaku.
Baca Juga: Binrohtal: Waspadalah! Empat Hal Ini Bisa Jadi Perampas
Kedua, karena musibah itu tidak lebih besar dari yang seharusnya.
Ketiga, karena Allah memberiku kesabaran.
Keempat, karena aku berharap pahala darinya.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu juga berkata: Janganlah engkau menyangka, ujian itu tanda Allah membencimu.
Sungguh, ujian itu tanda Allah ingin membersihkanmu.
Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan: Jangan engkau berharap hidup tanpa ujian.
Karena sesungguhnya ujian itu akan menunjukkan siapa yang jujur dalam imannya dan siapa yang dusta.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika engkau menghadapi ujian, yakinlah di baliknya ada kebaikan yang besar.
Karena hujan tidak akan turun kecuali setelah langit mendung.
Nabi Ayyub ‘alaihis salam diuji kehilangan harta, anak, dan kesehatan.
Namun beliau tetap berkata: Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang (QS Al-Anbiya 83).
Selama 18 tahun sakit dan miskin, Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh.
Akhirnya, Allah berfirman: Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang beribadah (QS Al-Anbiya 84).
Inilah puncak cinta Allah: Menguji, membersihkan, lalu meninggikan derajat hamba-Nya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz