Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Pasar Perak Jombang Terpuruk, Pedagang dan Pembeli Terus Menyusut

Ainul Hafidz • Selasa, 4 November 2025 | 17:34 WIB
Kondisi Pasar Perak, Kecamatan Perak, Jombang, kian memprihatinkan.
Kondisi Pasar Perak, Kecamatan Perak, Jombang, kian memprihatinkan.

JombangBanget.id – Kondisi Pasar Perak, Kecamatan Perak, Jombang kian memprihatinkan.

Sejak direvitalisasi dan menerapkan sistem pembayaran retribusi elektronik, geliat aktivitas jual beli justru makin lesu.

Banyak kios tutup, pembeli enggan datang, dan pedagang memilih angkat kaki.

”Tambah hari malah tambah sepi. Nggak ada pembeli, barang tidak terjual. Apa lagi yang mau diandalkan di pasar ini,” keluh Junaidi, salah satu pedagang lantai atas, Senin (3/11).

Dari satu deret kios tempatnya berjualan, kini hanya dia yang masih bertahan.

”Lainnya sudah tutup, nggak mau jualan lagi karena malah rugi,” imbuhnya.

Omzet penjualan pun nyaris nihil.

”Sekarang bayar retribusi itu jarang, karena apa yang mau dibuat bayar kalau jualan saja sepi begini. Laku satu saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.

Pasar Perak kini menggunakan Sistem Pembayaran Retribusi Elektronik Terintegrasi (Si RATRI).

Pedagang membayar retribusi lewat kartu digital berisi saldo, menggantikan sistem karcis manual. Namun, menurut Junaidi, inovasi itu belum berdampak signifikan.

”Kadang saya isi, kadang juga saya biarkan. Mau bayar dari mana, barang laku saja sekarang sulit,” katanya.

Baca Juga: Harga Telur Masih Tinggi, Pemkab Jombang Geber Pasar Murah di Sejumlah Titik, Ini Sebaran Lokasinya

Hal serupa dirasakan Khosiyah, 65, pedagang lantai dua yang sudah 24 tahun berjualan di Pasar Perak. Ia menyebut pasar justru makin sepi sejak direhab.

”Sekarang malah banyak yang tutup. Hari-hari seperti ini, tambah hari pedagang banyak yang memilih tidak jualan,” ujarnya.

Warga Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak itu menambahkan, pembeli kini lebih memilih berbelanja di area belakang pasar.

Lokasi tersebut dulunya merupakan tempat penampungan sementara saat renovasi berlangsung.

”Banyak pedagang yang ngontrak di utara pasar. Kalau di sini (lantai atas) susah, pembeli malas naik. Sudah dibangun begini, tapi siapa yang menghuni,” lirihnya.

Kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding sebelum direnovasi.

”Dulu itu ramai. Sehari itu masih bisa nabung Rp 50 ribu, sekarang boro-boro buat nabung, buat makan saja susah,” ungkapnya.

para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka ingin ada solusi konkret agar aktivitas perdagangan kembali hidup.

”Harapannya dijadikan satu lagi pasarnya, entah di atas atau di bawah, supaya pasarnya ramai lagi,” tandas Junaidi.

Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi Pasar Perak makin memprihatinkan. Ratusan lapak dan kios yang dibangun dengan anggaran Rp 10 miliar tetap mengkrak.

Pedagang enggan masuk ke bangunan pasar dan memilih berjualan di pinggir jalan. Hanya satu dua pedagang yang bertahan. Kondisi lapak juga banyak dipenuhi debu.

Spanduk peringatan agar pedagang menempati kios sejak 9 Mei 2024 juga masih terpasang. Namun, imbauan itu seolah tak digubris pedagang.

Kabid Sarana Perdagangan dan Bapokting Disdagrin Jombang, Yustinus Harris Eko Prasetijo, membenarkan kondisi tersebut.

”Saat ini ada 276 lapak yang tidak beroperasi. 131 kios dan 145 lapak los,” terangnya, Selasa (9/9).

Ia menyebut, berbagai upaya sudah dilakukan agar pedagang mau menempati lapak.

”Kami juga sudah melakukan berbagai langkah, mulai dari sosialisasi kepada pedagang, memasang spanduk peringatan, hingga memberikan surat pemberitahuan resmi, tapi membuahkan hasil” jelasnya. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Disdagrin Jombang #kios #Pemkab Jombang #pedagang #menyusut #pembeli #Jombang #terpuruk #pasar perak