Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tanam Kedelai di Jombang Terus Menyusut, Disperta Ungkap Penyebabnya

Ainul Hafidz • Selasa, 4 November 2025 | 20:51 WIB
TAMBAHAN BAHAN BAKU TAHU: Petani menunjukkan kedelai yang baru saja dipanen di pematang sawah Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang.
TAMBAHAN BAHAN BAKU TAHU: Petani menunjukkan kedelai yang baru saja dipanen di pematang sawah Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang.

JombangBanget.id – Lahan tanam kedelai di Jombang terus menyusut dari tahun ke tahun.

Meski kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe terus meningkat, minat petani menanam kedelai lokal justru menurun tajam.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang, M. Rony, mengatakan, penyusutan ini bukan karena kedelai tidak diminati. Melainkan karena petani lebih memilih komoditas yang dinilai lebih menguntungkan.

”Petani kita cukup cerdas. Ketika harga jual tidak sesuai, tentu mereka memilih komoditas yang harga jualnya lebih menjanjikan,” kata Rony.

Kedelai biasanya ditanam pada musim kemarau, bersamaan dengan waktu tanam jagung.

Namun, secara hitungan ekonomi, hasil kedelai jauh lebih rendah dibanding jagung.

”Kalau kedelai lokal harganya hanya sekitar Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram, sementara hasilnya sekitar 1 ton per hektare. Bandingkan dengan jagung yang bisa 7 ton per hektare dengan harga Rp 5.000 per kilogram, tentu jauh bedanya,” imbuh dia.

Selain faktor harga, derasnya kedelai impor juga menjadi penyebab utama turunnya minat petani.

”Sekarang kedelai import luar biasa. Sebagai perbandingan, tahun 1995 lahan kedelai di Jombang itu bisa mencapai 15 ribu hektare, terutama di wilayah Sumobito, Mojowarno, dan Tembelang. Sekarang kalau bisa tembus 2.900 sampai 3.000 hektare saja itu sudah bagus,” katanya.

Rata-rata petani yang masih bertahan menanam kedelai lokal umumnya memiliki pasar tersendiri.

”Biasanya mereka menjual ke perajin tempe atau tahu yang memang mempertahankan bahan baku kedelai lokal. Jadi lebih ke tradisi,” tutur Rony.

Baca Juga: Begini Cara Produsen Keripik Tempe di Jombang Siasati Produksi Ditengah Harga Kedelai Tinggi

Kebutuhan kedelai di Jombang juga dinilai sangat besar. Terutama di sentra produksi tahu ataupu tempe.

”Saya dengar di wilayah Jogoroto saja, kebutuhan kedelai untuk tahu bisa mencapai 80 ton per hari, dan mayoritas bukan menggunakan kedelai lokal,” kata Rony.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), Jombang Dalam Angka menunjukkan tren penurunan luas panen kedelai dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2022 lalu, luas panen tercatat 1.884 hektare dengan produksi 2.883 ton.

Sementara pada 2023, luasnya meningkat menjadi 3.598 hektare dengan produksi 5.998 ton.

Namun pada 2024 kembali turun menjadi 3.123 hektare dengan produksi 5.152 ton.

Mayoritas lahan kedelai berada di 10 kecamatan, dengan wilayah paling luas di Kecamatan Sumobito, yakni antara 1.290 hingga 1.695 hektare. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#menyusut #produksi tahu #tempe #Kedelai Import #tanam kedelai #kedelai lokal #susut #kedelai #Jombang #tahu #disperta jombang