JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Jombang, Gus M Hafidz Alhafiz, menjelaskan pentingnya memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober.
’’Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad. Menggerakkan para ulama dan santri melawan penjajahan. Darah para syuhada dan doa para kiai menjadi fondasi bagi kemerdekaan yang kini kita nikmati,’’ urainya, saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (31/10).
Para santri meyakini, perjuangan di jalan Allah tidak akan sia-sia.
Sebagaimana firman Allah di QS Ali Imran 169.
Dan janganlah kamu mengira, orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
’’Takwa merupakan landasan perjuangan santri,’’ ucapnya.
Sayidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata: Ciri perilaku takwa yakni takut akan siksa atas kemurkaan Allah.
Mengamalkan ajaran Allah. Rida atas segala anugerah Allah Ta’ala. Serta mempersiapkan amal saleh untuk menghadapi kematian.
Allah Ta’ala berfirman di Quran Surat Alhujurat 13.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.
Para santri dituntut menjadi teladan dalam ketakwaan—bukan hanya di pesantren, tetapi juga di tengah masyarakat, dengan amal nyata yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan umat.
’’Kita harus meneladani semangat nasionalisme dari pesantren,’’ ajaknya.
KH Hasyim Asy’ari, menggagas semangat ukhuwah wataniyah—persaudaraan kebangsaan.
Menanamkan hubbul watan minal iman, cinta tanah air bagian dari iman.
Ketika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menatap tanah kelahirannya dengan penuh cinta seraya bersabda: ’’Alangkah baiknya engkau (wahai Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang amat aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu.
Cinta Rasulullah kepada tanah air menunjukkan, nasionalisme dan iman bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
’’Ukhuwah kebangsaan menyatukan perbedaan,’’ ucapnya.
Dalam konteks Indonesia yang beragam, ukhuwah ini menjadi kunci untuk merawat harmoni.
Santri harus menjadi perekat bangsa, menolak perpecahan, dan menjaga semangat persaudaraan sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala di QS Ali Imran 103.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.
’’Barang siapa tidak memiliki tanah air, ia tidak memiliki sejarah. Dan barang siapa yang melupakan sejarah, maka ia akan terlupakan,’’ terangnya.
Setiap santri perlu mengingat dua pesan penting yang disimbolkan dalam akronim JAZ. JAZ MERAH: Jangan lupakan sejarah. JAZ BIRU: Jangan lupakan jasa ulama. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz