Yauma’idz tuhaddits akhbaraha..
Kelak, bumi ini mengungkapkan semua rahasia kita, semua yang pernah kita lakukan.
Semua diungkap secara terbuka, jujur dan nyata, baik amal kecil, apalagi yang besar.
Tidak hanya amal baik, yang buruk dan yang terburuk juga diungkap.
Kala itu, kita hanya bisa terdiam dan merunduk.
Tangan, kaki dan seluruh anggota badan mengiyakan, sementara mulut terkunci dan tak mampu berbicara sepatah kata-pun.
Maka benarlah, bahwa sejatinya orang hidup di dunia ini bagai orang yang sedang tidur.
Baru setelah mati nanti, mereka terbangun. Al-Nas niyam, wa idz matu intabahu.
Di dunia tidak bisa dibuktikan, mana amal baik dan mana amal buruk secara konsekuensi dan nyata.
Pahala itu seperti apa dan dosa itu kayak apa.
Jawabnya karena: Pertama, di dunia bukan tempat pembuktian, melainkan sekedar tempat beramal.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan (9-Habis)
Tidak ada efek yang nyata bagi orang yang rajin beribadah dan orang yang rajin bermaksiat ditilik dari sisi duniawi.
Tidaklah pasti orang yang bertakwa, lalu rezekinya berlimpah dan kaya raya.
Tidak pula yang maksiat mesti hidup melarat.
Allah Ta’ala hanya menjanjikan kepada mereka yang bertakwa, rajin ibadah, bersedekah pasti hidup di dunia dalam kecukupan.
Tuhan tidak menjamin kaya raya, tetapi menjadi berkecukupan.
Juga tidak ada ancaman, bahwa yang kafir, durhaka, hobi maksiat, kemudian hidupnya melarat.
Nyatanya, orang kaya di dunia ini banyak yang kafir dan durhaka.
Yang ada ancaman melarat dan sengsara di dunia itu anak yang durhaka kepada orang tua.
Hal itu karena: Pertama, kestersinggungan Tuhan, sakit hati-Nya karena orang tua itu sebagai agen penciptaan.
Membantu Tuhan dalam hal menciptakan anak manusia.
Meski Tuhan mampu sekedar bertitah: ’’Kun fa Yakun’’, tapi tidak dilakukan. Tetap pakai jasa manusia, ibu dan ayah.
Begitu mulianya derajat orang tua, sehingga oleh wong Jowo diibaratkan sebagai ’’Pengeran Katon’’.
Tuhan yang terlihat. Jadi, sejatinya, jika ada orang tua disakiti anak, maka yang paling sakit hati duluan adalah Tuhan Allah Ta’ala.
Maka benar agama memberi peringatan: Ada dua dosa yang siksaannya disegerakan sejak di dunia.
Pertama, menzalimi, menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar dan kedua menyakiti orang tua.
Orang yang menzalimi, merugikan orang lain pasti akan mendapat balasan, meski kadang tidak terasa.
Menjarah, nakalan warisan, ngerampas hak milik orang lain, menang di pengadilan, tetapi, biasanya harta itu hangus, habis perlahan, tidak sampai terwarisi anak-cucunya.
Itu namanya ’’tidak barakah’’. Maka, hati-hatilah terhadap harta waris.
Ambil hak anda sebenarnya, atau.. lebih baik mengalah. Wong nakalan mesti kualat, baik di dunia maupun di akhirat.
Soal nakalan urusan duniawai, nakalan soal duit, bahkan utang yang halal, jika belum dibayar, Tuhan tidak mau menyelesaikan.
Dosa kepada Allah Ta’ala sebesar apapun, Tuhan masih membuka tangan dan sedia mengampuni. Tapi perkoro utang, Tuhan terang-terangan angkat tangan. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz