Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Zalzalah

Ainul Hafidz • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 13:42 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

GUNCANG , itulah makna surah al-Zalzalah. Sangat mengerikan, bagaimana tidak..?

Kita sedang santai, tiba-tiba bumi berguncang dahsyat sekali.

Pastinya, manusia podo panik dan berhamburan menyelamatkan diri tanpa mempedulikan orang lain.

Bahkan tak sadar bila bayinya sedang ada di dalam rumah.

Bisa dibayangkan bila guncangan tersebut menyeluruh, semua sudut, semua daerah, tak ada yang diam dan tak ada yang aman.

Semua terkurung, semua terjebak dalam reruntuhan dan puing-puing. Itulah makna ayat pertama surah ini, Idza zulzilat al-ardl zilzalaha.

Tidak sekedar berguncang, bumi ini juga memuntahkan semua isi pertunya.

Bebatuan, lahar, lumpur, mayat-mayat dan sebangsanya dikeluarkan semua.

Seperti orang yang sakit perut berat, muneg-muneg, senep, mumet, sumpek yang ingin muntah, agar lega.

Itulah makna ayat kedua, wa akhrajat al-ardl atsqalaha.

Sebegitunya bumi berbuat kasar and mentolo ?

Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan (7)

Ya, karena bumi sangat neg dan geregetan terhadap ulah manusia yang selama ini banyak berbuat durhaka tur gak rumongso salah.

Atau sangat lama menunggu perintah dari Tuhan sehingga makin mendongkol. Begitu ada perintah, maka dibrolkan semuanya.

Saat kondisi bumi berantakan dan sangat mengerikan, manusia yang masih hidup berteriak mencari tahu: ’’Ada apa ini.? Apa yang terjadi..?’’

Tetapi hanya ada kata tanya belaka, tanpa seorangpun yang bisa menjawab. Itulah makna ayat ketiga: Wa qal al-insan ma laha.

Paling mudah memahami surah ini adalah sebagai gambaran hari kiamat nanti.

Bahwa kehidupan harus berakhir dan semua ciptaan mati, lalu dibangunkan kembali untuk diminta pertanggung-jawaban atas semua amal perbuatan yang pernah mereka lakukan.

Saat itu, malaikat Israfil telah meniupkan terompetnya yang pertama, pertanda kematian totalitas.

Di sini ada celometan, ’’Nanti, di antara para makhluk yang ada, siapakah kiranya yang mati paling akhir: malaikat Israfil atau Izrail..?’’

Sebut saja, Izrail. Karena dia pemegang otoritas pencabutan semua nyawa makhluk termasuk temannya sendiri, Israfil.

Jadi, saat Israfil meniup terompet kali pertama, semua mati kecuali mereka berdua.

Lalu Izrail mencabut nyawa Israfil, sehingga tinggal Izrail sendirian.

Tenger-tenger sendirian, Izrail – lantas - matur ke Gusti Allah: ’’Gusti, lalu siapa yang mencabut nyawa saya..?

Allah SWT menjawab: ’’Yo cabuten dewe lho, Il.. terus kamu mau menyuruh siapa..?’’

Izrail mencabut nyawa sendiri dan spontan berteriak kesakitan.

Tuhan mencep: ’’Pelan-pelan saja, Il.. ojo kasar-kasar..’’

Izrail nimpali: ’’Ya Tuhan, Demi Kemulyaan dan Keagungan-Mu, sungguh ini pencabutan yang paling halus dan pelan, masih kayak begini ini sakitnya..’’

Allah Ta’ala nimpali: ’’Sadar kamu.., seperti itulah sakitnya nyawa dicabut, padahal itu sudah paling halus. Terus bagaimana yang kamu cabut dengan kasar..?’’

Ditohok Tuhan begitu, Izrail diam dan merunduk.

Tapi sayang.. sadarnya Izrail itu nanti, setelah dia merasakan sendiri.

Mudah-mudahan Izrail membaca tulisan ini dan mengerti, sehingga halus sekali ketika mencabut nyawa kita. Amin. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #Zalzalah #Bumi Berguncang #Jombang #Tafsir Aktual #kiamat