Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Panen Tembakau 2025 Gagal Total? APTI Jombang Sebut Jadi yang Terparah Tiga Tahun Terakhir

Achmad RW • Senin, 6 Oktober 2025 | 15:17 WIB
Petani tembakau di Kecamatan Kabuh, Jombang memanen tembakau.
Petani tembakau di Kecamatan Kabuh, Jombang memanen tembakau.

JombangBanget.id - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang mencatat tahun ini adalah tahun terburuk dalam masa tanam tembakau sejak tiga tahun terakhir.

Selain cuaca tak mendukung, serapan pabrik juga jadi alasannya.

Hal itu, diungkapkan Lasiman, Ketua APTI Jombang yang menyebut kondisi petani tembakau tahun 2025 ini tengah menghadapi badai dan tantangan berat.

“Ya kalau bisa dibilang, ini panen terburuk kalau dibandingkan tahun 2023 dan 2024, dua tahun kemarin harganya bagus dan cuaca mendukung,” terangnya.

Tahun ini, kondisi tanaman tembakau memang sudah dihadapkan pada kendala bahkan sejak sebelum panen dimulai.

Hujan yang masih turun di awal musim tanam membuat masa tanam mundur, bahkan banyak petani yang harus beberapa kali tanam ulang.

“Setelah panen pun, hasil tembakaunya jadi kurang bagus banyak yang rusak juga. Yang masih bisa panen, dihadapkan dengan sulitnya penjemuran,” lontarnya.

Hal itu, disebutnya berpengaruh pada produksi tembakau pascapanen.

Baik yang diolah dengan cara rajangan maupun janturan.

“Sama saja, kondisi cuaca yang redup, membuat penjemuran tidak maksimal, yang rajangan bisa muncul jamur, yang janturan juga rentan jadi hitam,” lontarnya.

Selain itu, hal itu, juga disebutnya membuat serapan tembakau menjadi lebih lambat.

Baca Juga: Harga Tembakau di Jombang Jeblok, Pendapatan Petani Kini Terjun Bebas Hingga 70 Persen

Lasiman menyebut, hingga kini banyak panen tembakau petani belum terserap sempurna oleh Gudang dan pabrik.

“Khususnya teman-teman yang pakai sistem janturan, banyak yang belum terserap meskipun sudah kering tembakaunya. Mungkin karena pabrik juga tahu kualitasnya kurang di panen tahun ini, sehingga mereka lebih selektif. Kalaupun ada yang terserap harganya juga murah,” tambahnya.

Kini, petani disebutnya masih akan berharap dari panen tahap akhir tembakau. Khususnya bagi tembakau yang masih di panen di tahap bawah hingga tengah.

“Sebagian petani masih berharap pada hasil daun tengah hingga atas yang biasanya kualitasnya lebih baik, semoga saja cuacanya mendukung dan harganya bisa membaik,” pungkasnya.

Senada, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jatim, Muhdi juga menyebut tahun ini memang serapan pabrik akan cenderung rendah.

Hal itu karena stok abik dari datanya yang disebut masih melimpah.

"Sejumlah pabrik rokok besar memutuskan untuk tidak melakukan serapan tembakau petani. Mereka (pabrik rokok besar) mengaku sudah memiliki banyak stok, bahkan hingga 4 tahun. Akan tetapi tembakau petani ini masih jalan (terserap) oleh pabrik rokok kecil," ujar ujarnya.

Selain itu, lanjut Muhdi, juga terjadi penurunan harga tembakau.

Kalau September tahun lalu bisa di kisaran harga Rp45.000 hingga Rp.50.000 per kilogram akan tetapi tahun ini hanya laku di bawah angka Rp40.000 per kilogram.

Menurutnya tembakau belum ada harga secara khusus, tapi harga mengacu pada harga tahun lalu, atau hasil musyawarah Bersama.

"Kendala lainnya adalah anomali cuaca. Yakni kondisi cuaca yang tidak menentu kadang panas kadang hujan, ini membuat tanaman tembakau rusak bahkan mati. Di salah satu kecamatan di Bojonegoro sekitar 500 hektare tanaman tembakau malah mati akibat anomali cuaca ini," katanya.

Selain itu kondisi cuaca yang tidak menentu juga berpengaruh terhadap perkembangan tanaman tembakau.

“Bisa dibilang kondisinya kurang begitu bagus," katanya. (riz)

Editor : Ainul Hafidz
#harga tembakau #panen #panen tembakau #APTI Jombang #Tembakau #apti #asosiasi petani tembakau indonesia #Jombang #musim kemarau basah #utara brantas #disperta jombang