Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Renungan Minggu: Ini Tips Damaikan Hati untuk Lawan Rasa Bersalah

Rojiful Mamduh • Minggu, 28 September 2025 | 15:30 WIB
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh,
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh,

JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya menghiburkan dan menenangkan hati.

’’Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga. Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya,’’ tuturnya mengutip Kejadian 50:21.

Rasa bersalah dan ketakutan yang hebat dialami oleh saudara-saudara Yusuf setelah ayah mereka meninggal. Itulah yang terjadi saat itu.

Pernahkah kita juga mengalami dikejar-kejar oleh dua perasaan yang saling terkait ini?

Orang yang merasa bersalah, biasanya juga takut. Sebuah tindakan jahat di masa lalu bisa terus tersimpan di ingatan pelakunya, kecuali si pelaku keras hati.

Namun jika hatinya lembut, rasa bersalah itu akan terus menghantui dan membuat hidup tidak tenang.

Di masa kecil saya pernah mengalaminya dan menjadi pelajaran di saat dewasa atau menjadi orang tua.

Kejujuran itu mendatangkan damai dan melepaskan pengampunan itu membuat hati tenang.

Waktu kecil pasti pernah berbuat kesalahan dan ketika segera menyelesaikan membuat tenang.

Demikian juga sebaliknya di saat melihat anak berbuat kesalahan, kita buat hati mereka hangat dan tenang.

Saudara-saudara Yusuf sangat menyadari kesalahan mereka di masa lalu.

Baca Juga: Renungan Minggu: Tuhan Tak Pernah Diam, Ini yang Sering Kita Lupa

Maka ketika Yakub meninggal, mereka kembali dihinggapi ketakutan, bahwa Yusuf akan membalas kejahatan mereka dan tidak lagi bersikap baik kepada mereka.

Maka setelah tujuh belas tahun hidup bersama di Mesir, mereka kembali memohon pengampunan Yusuf atas kesalahan mereka di masa lalu.

Bahkan mereka menyatakan bersedia menjadi budak Yusuf.

Bagaimana sikap Yusuf? Yusuf menunjukkan bahwa sikapnya tetap sama, baik semasa Yakub masih hidup maupun setelah Yakub tiada.

Yusuf memang tak lupa pada kejahatan mereka dulu.

Namun Yusuf telah menemukan makna peristiwa masa lalu itu, yakni agar ia dapat memelihara hidup suatu bangsa yang besar (ayat 20).

Jadi ia melegakan hati saudara-saudaranya dengan berkata : "Jangan takut". Sikap, kata, refleksi dan tindakan Yusuf menenangkan dan menghibur hati mereka.

Bagi kita yang dirundung ketakutan karena rasa bersalah, sungguh menenangkan hati jika kita segera menuntaskannya.

Bila kita tidak segera menyelesaikannya akan terus menerus membuat hati gelisah.

Atau bagi kita yang berada di posisi seperti Yusuf, janganlah menunda untuk melegakan hati mereka yang datang kepada kita dengan rasa takut dan menyesal.

Segera tenangkan dan damaikan hatinya dengan memberikan pengampunan dan harapan baru.

Kasih dan pengampunan yang sejati, sanggup menghangatkan kebekuan hati.

’’Berbahagialah orang yang membawa damai,karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Demikian yang dikatakan firman Allah. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Renungan Minggu #GPdI House of Prayer Sawahan #menghibur diri #damaikan #Jombang #pendeta #Petrus Harianto