JombangBanget.id - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tembelang, Jombang, KH Nur Kholis, menjelaskan pentingnya zikir.
’’Kita harus selalu berzikir setiap saat untuk menenangkan jiwa,’’ tuturnya, kala ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (24/9).
Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Arra’d 28.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berzikir, seperti orang hidup dan orang mati.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: Carilah rasa manis dalam tiga hal: Dalam salat, dalam zikir, dan dalam membaca Alquran.
Jika engkau tidak menemukannya, maka ketahuilah bahwa pintu hatimu telah tertutup.
Imam Al-Ghazali berkata: Zikir jalan tercepat untuk sampai kepada Allah.
Tidak ada amal yang melebihi zikir dalam mendekatkan hati kepada-Nya.
’’Ada empat level zikir,’’ ucapnya.
Pertama, zikir dengan lisan semata. Lisan zikir tapi hati tidak ingat Allah.
Baca Juga: Binrohtal: Kisah Nabi Muhammad, Penebar Cinta dan Rahmat bagi Dunia dan Akhirat
Kedua, zikir dengan hati. Lisan zikir dan hati ikut hadir dalam zikir. Meresapi makna yang dilafadkan.
Inilah bentuk zikir yang mulai memberi pengaruh kepada jiwa — menghadirkan rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.
Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.
Ketiga, zikir dengan jiwa dan kesadaran penuh. Zikir dengan kesadaran penuh (hudhur).
Seluruh energi jiwa tertuju kepada Allah.
Orang yang berada di level ini mulai merasakan manisnya kedekatan dengan Allah, seolah-olah selalu berada dalam pengawasan-Nya.
Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menyatakan: Janganlah engkau meninggalkan zikir karena tidak hadirnya hatimu di hadapan Allah, karena kelalaianmu terhadap-Nya lebih berbahaya daripada zikirmu yang disertai kelalaian.
Keempat, zikir dalam fana, zikir hakiki. Ini puncak zikir.
Zikir yang membuat seseorang fana (luruh) dalam keagungan Allah.
Tidak lagi ia menyadari dirinya, yang ada hanya Allah. Ini maqam para wali dan arif billah.
Seorang wali besar, Abu Yazid Al-Busthami, berkata: Aku berzikir kepada-Nya, hingga aku lupa terhadap zikirku sendiri. Yang tinggal hanya Dia.
Dikisahkan, seorang hamba di zaman Bani Israil telah berbuat dosa selama 70 tahun.
Ketika dia mengangkat tangannya untuk berdoa, Allah berfirman kepada malaikat: ’’Jangan kabulkan doanya.’’
Namun, berkali-kali ia terus memohon dengan tangisan dan zikir, hingga Allah berfirman: ’’Wahai malaikat-Ku, sesungguhnya Aku malu kepada hamba-Ku itu. Selama 70 tahun ia meninggalkan-Ku, tapi Aku tidak pernah meninggalkannya. Sekarang ia datang kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’’
Zikir yang terus diulang-ulang dengan penuh harap dapat menembus langit dan mengetuk pintu rahmat Allah. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz