Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Imbas Harga Tembakau Jeblok, Perajang Tembakau Mulai Hentikan Produksi

Achmad RW • Rabu, 24 September 2025 | 12:26 WIB
Perajang tembakau di Jombang ikut terdampak harga tembakau yang murah dan jeblok
Perajang tembakau di Jombang ikut terdampak harga tembakau yang murah dan jeblok

JombangBanget.id - Imbas ;esunya harga tembakau tahun ini tidak hanya membuat petani merugi, tetapi juga menyeret para perajang ke jurang kerugian.

Akibat anjloknya harga dan kualitas tembakau yang merosot, sejumlah perajang memilih menghentikan sementara aktivitas produksi.

Budianto, 42, perajang sekaligus petani asal Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu, mengaku tahun ini merupakan musim terburuk selama beberapa tahun terakhir.

”Bisa dibilang ini tahun paling hancur. Kalau dilanjut terus malah rugi,” keluhnya kemarin (22/9).

Ia menjelaskan, harga tembakau rajangan kering kini dipatok hanya Rp 32 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram di tingkat gudang.

Harga tertinggi itu pun hanya berlaku untuk tembakau kualitas istimewa – non-gula dan berwarna cerah, yang kini sulit didapat akibat pengaruh cuaca.

”Kalau tembakau basahnya sudah jelek, otomatis hasil rajangannya juga jelek. Rendemennya kecil, warnanya gelap, jadi murah semua,” katanya.

Tembakau kering bergula bahkan lebih menyedihkan, dengan harga hanya di angka sekitar Rp 33 ribu per kilogram, jauh dari nilai ekonomis yang bisa menutupi biaya produksi.

Padahal, lanjut Budiono, di awal September harga masih cukup baik, di kisaran Rp 4.500 sampai Rp 6.000 per kilogram untuk daun basah. Tapi tren itu tak bertahan lama.

”Tiga minggu terakhir terus turun. Sekarang daun basah paling cuma Rp 2.500 per kilo,” ucapnya.

Rendemen tembakau rajangan juga anjlok. Jika tahun lalu bisa mencapai 14–15 persen, kini hanya berkisar di angka 10–11 persen.

Penyusutan tinggi ini menyebabkan perhitungan produksi tidak lagi menguntungkan.

”Penjemuran juga jadi masalah besar. Sore sering hujan, jemuran basah, tembakaunya jadi hitam. Harga langsung jatuh kalau sudah begitu,” tambahnya.

Tak hanya itu, sejumlah gudang juga mulai menolak pembelian dari perajang karena serapan dari pabrik rokok besar sedang lesu.

Kondisi ini menyebabkan stok tembakau di tingkat perajang menumpuk.

”Gudang juga sekarang makin selektif. Kalau kualitas tembakau jelek, langsung ditolak. Kalaupun diterima, harganya tidak masuk akal,” ujar Budianto.

Akibat tekanan dari berbagai sisi, Budianto pun memutuskan mengurangi bahkan menghentikan sementara aktivitas produksinya.

Jika kondisi normal ia bisa merajang hingga mencapai 4 ton tembakau per hari, kini tinggal separuhnya.

”Sudah semingguan ini produksi sudah berkurang, kalau biasanya sehari bisa 4 ton, sekarang maksimal cuma 2 ton, bahkan tidak sampai. Ini juga mau berhenti dulu tiga hari, sambil memantau harga, karena masih rugi terus hitungannya,” pungkasnya. (riz/naz)

 

Editor : Achmad RW
#rugi #Jeblok #Tembakau #Perajang Tembakau #Jombang #harga